Posted by anjar on Apr 19, '11 9:29 AM for everyone waktu semakin cepat saja berjalannya. Namun, apakah ia berjalan lurus?Kalau begini,saya mengira ia berlari memusat. Memutar cepat ke suatu titik dengan cepat seperti pusaran air dalam sebuah badai yang berbentukseperti amphiteater raksasa. Lalu lingkaran mengecil semakin cepat. Hingga akhirnya kita terjerumus dengan gilanya di dalam cengkraman pusaran. Sesaat kemudian... jatuh ke bawah. Ya.Tanpa sadar kita tertelan... Tahu-tahu saja sudah jatuh.Melewatkan momen. Mengapa tiba-tiba jatuh? Saat itu,hanya ada penyesalan.Jarum jam bisa saja diputar kembali, namun, es krim yang sudah meleleh dan jatuh ke tanah tidak bisa dibekukan kembali menjadi eskrim dalam bentuk yang sempurna. Seperti sekarang ini,sudah hari senin lagi... Ya.Kita sudah terjebak ke dalam pusaran waktu. Bersiaplah. Seandainya ada doraemon, Saya ingin meminjam mesin waktunya. Kembali ke masa lalu dan melakukan beberapa perubahan. Tapi agaknya,saya kurang cukup cengeng seperti Nobita hingga harus dianugerahi Doraemon kepada dirinya. Kalau begitu,badai waktu ini tidakbisa dicurangi ya? Hanya bisadirekam prosesnya dalam sebuah jurnal untuk dibaca kembali di masa depan sebagai kapsul waktu. Saya menulis jurnal dengan alasan sederhana pada awalnya. Iseng. Keisengan itu agaknya bertransformasi bertransformasi seiring berubahnya kesadaran yang dimiliki soalwaktu itu tadi. Karena kita suatu harikelak akan tertelan habis dimakan cacing dan amuba, tidak ada salahnya menulis jurnal. Dengan begitu,kita tidak akan terkejut dengan kondisi "tahu-tahu" ataupun "begitu saja". Begitu pikir saya. Setelah itu,semoga kita bisa tertelan dengan damai dan keren. Saya teringat kisah penyusunan Al-Quran. Pada mulanya, Al-Quran hanya dihafalkan oleh orang-orang tertentu. Namun,waktu sekali lagi tidak bisa dicurangi. Orang-orang tertentu itu akhirnya menua,lalu mati. Menyadari jumlah mereka semakin menipis, mereka bersepakat untuk menuliskan hafalan-hafalan mereka dan menyusunnya ke dalam sebuah kitab. Kitab itu akhirnya bertahan hingga 1400 tahun lebih. Keasliannya terjaga dan dapat dibaca oleh semua umat muslim sedunia. Berterimakasihlah kepada mereka yang mau menulis.. Namun sayang, budaya kita bukan budaya tulisan. Kisah-kisah takhayul dan kepahlawanan disampaikan oleh nenek-nenek moyang kita dari mulut ke mulut. Hanya segelintir orang saja yang mau menulis dan menorehkan namanya di batu-batu prasasti, daun-daun lontar, ataupun kulit binatang.Biasanya, mereka juga berasal dari golongan ningrat ataupun penyair kerajaan. Mungkin sudah menjadi hukum alam, bahwa orang-orang yang sadar jumlahnya lebih sedikit daripada orang-orang yang tidak sadar (belum ditambah jumlah orang yang keblinger ataupun sakit jiwa). Dalam cerpennya, Edgar Allan Poe berkisah soal sebuah rekaman yang berharga yang dikemas dalam catatan harian akhir hayat seorang pelaut. Catatan itu dimasukkan ke dalam sebuah botol sesaat sipelaut menghadapi mautnya. Cerpen itu kemudian diberi juduloleh Poe,"Surat dalam Botol". Pelaut itu, si tokoh utama Poe, terjebak ke dalam sebuah situasi mistis.Setelah kapalnya diguncang badai hebat, ia terdampar di sebuah kapal hantu dengan awak kapal semuanya orang-orang lanjut usia.mereka tidak menyadari keberadaan sipelaut yang numpang di kapalnya. Dalam arti sebenarnya, mereka tidak dapat melihat si pelaut secara kasat mata seakan berada dari alam yang berbeda. Hingga suatu ketika,terjadi badai hebat dalam beberapa hari. Dan pelaut itu,akhirnya mati dengan meninggalkan sebuah surat dalam botol. Ia berharap, orang lai akan menemukan catatan itu. Saya bergidik ketikamembaca ini.Poe memang ahlinya dalam menciptakan suasana seram. Saya kemudian teringat Bapak saya yang sudah meninggal. HP bapak saya kebetulan saya yang bawa. Saya sengaja menyimpan 3 sent item terakhir beliau. Agar saya selalu ingat bahwa sent item itu pernah ia tulis saat ia masih menjadi manusia hidup.saat jari-jarinya masih bisa dengan leluasa memencet tombol2 HP. Sent item itu, membuatnya abadi dalam kenangan,setidaknya bagi saya. Begitu juga Poe. Poe telah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Begitu juga para pengumpul hafalan Al-Quran. Jasad mereka mati, namun mereka abadi dalam kenangan.Mereka secara tidak kita sadari telah mencurangi waktu.Satu hal lagi. Ini juga alasan mengapa Kartini menjadi lebih beken ketimbang Christina Martha Tiahahu. Itu yang tadi saya bilang. tertelan secara keren. Bandung,Senin (lagi-lagi sudah senin) 18 Aprol 2011 "Dia yang hanya memiliki sesaat untuk hidup tida memiliki apa-apa lagi untuk disembunyikan" (Catatan pembuka dalam Cerpen 'Surat dalam Botol', Edgar Allan Poe,1831) Posted by anjar on Apr 19, '11 9:21 AM for everyone "I wanna wake up in the city that doesn't sleep" (Frank Sinatra,New York New York) ...Di dunia yang semakin mem-facebook dan men-twitter ini, agaknya Sinatra udah ketinggalan jaman.Tapi biarlah, saya masih mengukuhkan diri sebagai fans berat beliau... Lagu yang melejitkan nama Sinatra dan Kota New York pada (kalao tidak salah kata si wiki) 1977, berisi pesan modern yang begitu kental. Semangat revolusi industri yang masih menjamur. yakni disaat mesin mengalahkan keahlian natural tangan manusia dalam menciptakan produk. Di era awal-awal revolusi industri, sekitar akhir abad 19 dan awal abad 20, harga barang buatan tangan merosot tajam, harga barang buatan pabrik meroket. Begitu juga dengan proses jual beli.Toko-toko kelontong gulung tikar, dan pasar swalayan yang dingin menjadi raja yang nge trend pada saat itu. Berbeda sekali kan dengan jaman sekarang? Jaman sekarang, beragam produk lucu buatan tangan kembali memiliki harga yang tinggi. Barang pabrikan lewat. Nilai-nilai individu yang unik dari manusia kembali dihargai. Agaknya manusia jaman sekarang udah bosan. Butuh sesuatu yang baru. atau bisa juga dia udah muak sama dirinya sendiri. Dan akhirnya merasa bahwa jaman dulu sebenarnya nilai-nilai luhur terkandung begitu banyak dan seharusnya bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama. (Btw aku ngomong apa sih?) Jaman sekarang, semuanya sudah terbalik. Balik lagi ke yang tadi. Contohnya, orang kota sekarang suka dengan kondisi kampungan.Dan Orang desa suka dengan kondisi kotaan. (Hal ini dilihat oleh produser tv lokal dan akhirnya mereka membuat acara tv yang berjudul "Tukar Nasib".sebuah acara super lebay yang alhamdulillah sekarang udah ga ada). Orang kota udah merasa jijik sama diri mereka sendiri dan kualitas lingkungan yang mereka hinggapi. Terbukti dari macetnya jalan Setiabudhi-Lembang setiap akhir pekan yang dihiasi oleh Plat B yang akan memetik strawberry. Mereka mencari ketenangan, kesejukan, dan kebahagiaan yang "hijau" yang tidak didapat di lingkungan mereka dalam5 hari yang lalu. Maka dari itu,Saya bilang tadi Sinatra sudah ketinggalan jaman. Karena Syait, "I wanna wake up in the city that doesn't sleep" udah ga matching sama kondisi sekarang. Sekarang orang kota, pasti setidaknya seminggu sekali mencari keheningan yang damai. Mereka ingin meng-hibernasi instan-kan sejenak pikiran mereka dari keruwetan city mereka yang doesn't sleep. Tapi, jangan salah.Orang desa juga berubah. Dan kali ini kita harus berterima kasih kepada televisi yang menawarkan semangat modernitas yang ketinggalan jaman. Saya ingat sekali pas KKN saya menemukan kondisi yang aneh. Walaupun pendapatan masyarakat desa tempat saya ber-KKN bisa dibilang tdiak terlalu besar, apalagi kalau dibandingkan dengan pendapatan orang kota, anehnya mereka memiliki fasilitas unik yang lengkap dan rata-rata orang sekitar sama. HP beramera,MP3 player,dan motor baru yang masih klimis. Kalau dilihat kualitas tempat tinggal mereka,hal tersebut dirasa kurang sejalan dengan fasilitas yang mereka miliki. Tempat tinggal mereka bisa dibilang jauh sekali dari standar orang kota.Bahkan masih ada yang sering buang air besar dan mandi di sungai. "Ah, tak apalah, rumah jelek yang penting bisa mejeng di kota..." Lantas, apakah fenomena ini benar? Saya tidak yakin bahwa kebenaran di dunia ini mutlak. Seperti dunia yang bulat,tidak ada sisi yang tegas dan mutlak. Fenomena ini biarlah direkam saja bagi orang-orang yang menyadarinya. Biasanya sih, suatu hari nanti akan terjadi kebosanan dan pastinya sebuah fenomena baru akan muncul. Sebagai orang yang selalu menyukai perubahan, kita harus siap setiap saat untuk menghadapinya... Saya berharap, suatu hari nanti ada yang meneruskan jejak Sinatra. Dan semoga dia menyanyikan lagu "desa-desa" agar orang kota mau membuat kota mereka sehening desa-desa tempat tinggal nenek dan simbah mereka. Mantap. Posted by anjar on Apr 7, '11 10:42 AM for everyone Akhir-akhir ini mimpi yang saya alami ketika tidur selalu berkisah tentang kematian. Tadi malam, saya bermimpi tinggal di sebuah rumah yang menyeramkan. Rumah itu dihuni oleh gadis muda. Orang-orang sekitar takut sekali terhadap gadis itu. Entah mengapa, saya merasa biasa saja. Di rumah itu, sering terdengar suara ambulans meraung-raung. aneh sekali, namun tidak keganjilan yang saya rasakan. Hingga di akhir mimpi, barulah saya tahu, gadis muda yang saya lihat di mimpi itu mengaku bahwa ia telah mati bunuh diri sejak bertahun-tahun silam. Setelah itu, secara tiba-tiba saya terbangun. Melirik jam. Ternyata jam 7 pagi. Saya kesiangan. Sial. Mungkin saja, beberapa hari ini, alam bawah sadar saya masih terganggu. Belum bisa menerima bahwa Bapak saya telah tiada. Walhasil, pikiran tentang kematian selalu muncul dalam tidur saya. Malam sebelumnya, saya memang memimpikan Bapak lagi. Saat itu, saya sadar sepenuhnya bahwa Bapak seharusnya memang sudah meninggal dan tidak dapat bertemu dengan saya. Namun, saya tetap saja sedang berbicara dengan bapak saat itu dalam mimpi saya. Aneh memang, namun kadang kita juga sadar secara penuh bahwa kita sedang bermimpi, tapi kita juga kadang kala tidak bisa langsung terbangun dan menikmati mimpi yang kita alami, walaupun mimpi itu merupakan mimpi buruk bagi kita. Beberapa menit kemudian ketika saya menyadari bahwa saya memimpikan hal yang ganjil, biasanya saya terbangun. Seketika itu juga perasaan saya terasa begitu berat. Tanpa sebab yang jelas, saya menangis. Selain itu, mungkin hal ini dikarenakan bahan bacaan saya beberapa hari terakhir ini adalah novel horror dan misteri. Saya baru menamatkan Dracula My love (kisah intepretatif terhadap karya Bram Stoker’s Dracula), dan sedang membaca 2 buku thriller. Yang satu bukunya Edgar Allan Poe dan yang satu lagi Agatha Christie. Cerita-cerita gelap tersebut memang sering mengiringi aktivitas sebelum tidur saya. Bisa jadi hal ini jugalah yang menambah suramnya alam bawah sadar saya. Untung saja saya tidak memiliki masalah stress terhadap pekerjaan yang saya lakukan. Kalau itu terjadi, alam bawah sadar saya semakin suram, saya jamin. Hal lain yang mungkin menjadi penyebabnya juga bisa jadi saua lupa untuk membaca doa sebelum tidur. Beberapa hari terakhir ini saya selalu ketiduran. Tidak selalu siap tidur. Dan ketidurannya jelas karena membaca novel-novel horror itu tadi. Mala mini, saya mencoba untuk mengawali tidur dengan relaks, berdoa, dan berharap semoga mimpi erotis yang saya dapatkan, bukan mimpi yang mengerikan, serta bangun dengan segar di keesokan harinya dalam perasaan puas nan bergelora. Ha ha (tapi sayangnya, malam tadi saya sulit tidur…) Hmm… ngomong-nomong soal bangun tidur, saya selalu memikirkan dua hal, setidaknya dalam tiga hari terakhir ini. Pertama, itu tadi. Kadang saya masih tidak percaya kalau Bapak sudah meninggal. Dan yang kedua, ternyata saya ini sudah cukup tua. 24 tahun, dan mewarisi penyakit diabetes Bapak yang bisa muncul dengan tiba-tiba di usia 40-an. Usia saya semakin hari semakin berkurang. Kalau ke[ikiran 2 hal ini, bangun tidur merupakan hal yang merupakan begitu menyesakkan bagi saya. Tapi, untung saja, beberepa menit kemudian setelah otak saya menghirup oksigen pagi, pikiran saya mulai berjalan lancar. Pikiran tersebut menjelma menjadisebuah sugesti dan kalimat yang berloncatan dalam otak, “Aku manusia. Terbangun dari alam tidur sebagai manusia. Yang memiliki jasad dan jiwa. Bukan terbangun sebagai nyamuk, semut, apalagi setan. Amit-amit…” berikutnya hati saya melongoskan hamdallah… Alhamdulillah… Terlebih lagi, saya terbangun dalam keadaan hidup. Masih ada kesempatan untuk beramal dan berkesempatan mencari surga. Menghabiskan sisa umur dengan hal-hal yang mengesankan. Err… Sebenarnya, saya berutang denganpacar saya tulisan ini. Jurnal umur 24, kasarannya begitu. Dia sewaktu umurnya genap 24 tahun menuliskan apa saja yang telah dicapai dan belum dicapainya. Dia lalu menyuruh saya untuk menuliskannya juga. Tapi, pembicaraan itu terjadi jauh sebelum tanggal 22 Maret, saat Bapak saya berpulang. 4 hari sebelum saya berulang tahun. Setelah saya bertemu kembali dengan pacar saya selepas pulang dari Pontianak, saya berujar kepadanya, “24-ku ternyata lebih mengesankan daripada kamu…” Kemudian dia tersenyum. 24 ini… memang mengesankan. Berkisah tentang Bapak yang menghilang dari pandangan mata. Buat saya, hal itu masih saja terasa aneh. Namun, beginilah fakta ajaib dari sebuah penciptaan. Sama ajaibnya dengan sperma yang bertemu dengan sel telur dan menjadi janin yang hidup. Janin tersebut berkembang, lalu muncul ke dunia. Bernafas, menangis, berkembang dan akhrinya mati. Kita harus mengakui bahwa kematian juga merupakan bagian dari penciptaan manusia yang patut direnungkan. Fakta ini jelas-jelas akan membuat kita bersyukur bahwa kita adalah manusia seutuhnya, bukan nyamuk, semut, apalagi setan. Amit-amit… 24 ini, saya memang belum mencapai apa-apa. Hanya perenungan yang saya dapatkan. Tentang kehidupan dan bagaimana menjalani kehidupan. Yah, setelah ini mudah-mudahan saja saya semakin jago dalam mendesain. He he ga nyambung ya? Pada akhirnya hal ini akan mengingatkan kita bahwa hidup itu begitu singkat. Seperti tulisan yang tercetak di kaos favorit saya, “Life is too short..” Mengenai kaos ini, seorang teman pernah berkomentar, maklum dia adalah seorang desainer grafis dan praktisi periklanan. Itu tulisannya perlu ditambah, katanya suatu hari. “Life is too short, so live wisely…” Benar juga. Hidup itu singkat, jadi hiduplah dengan bijak. Hidup ini terlalu singkat untuk dilalui dengan duduk-duduk saja. Besok saja sudah hari Jumat lagi. Jumatan lagi, dan weekend lagi. Waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi kiamat, bersiaplah… 24, 2 dan 4… 2 + 4 = 6, 6 rukun Iman, Rukun Iman ke-6: Beriman kepada takdir (Qada’ dan Qadar)… Takdir buat saya adalah salah satu penciptaan yang mengesankan, yang selalu mengingatkan tentang Tuhan… “Dimana ada cinta, di situ Tuhan ada…” (Leo Tolstoy) Posted by anjar on Feb 15, '11 11:32 AM for everyone
 Oleh Anjar Primasetra* diikutkan dalam lomba blog NET.WORK green your mind
Cerita dari tempat kerjaSebuah kisah, selalu di awali dari sesuatu yang kecil. Sesuatu yang kecil itu, bisa ditemui lewat perenungan diri sendiri, dari lingkungan keluarga, dari tempat sekolah, dari tempat kerja, atau bahkan dari perjumpaan singkat dengan seseorang di metro mini atau angkutan kota. Ya, tulisan ini diawali di tempat kerja saya. Yang mungil, namun terasa lapang. Mungil tempatnya, namun besar semangat orang-orangnya. Saya bekerja sebagai arsitek junior di sebuah biro arsitektur kecil di Bandung yang memang kebetulan konsern terhadap isu lingkungan, khususnya yang terkait dengan rumah tinggal, terlebih rumah tinggal bagi orang-orang dengan dana terbatas. Saya baru bekerja selama dua bulan, namun, ritme kerja dan semangat kerja yang dipancarkan oleh senior-senior membuat saya menggilai profesi ini. Di sini, saya menemukan dan bergumul dengan ide-ide tentang penghematan biaya yang murah nan ramah lingkungan. Satu hal yang pasti, saya mengetahui bahwa pada prinsipnya, suatu yang ramah lingkungan itu biasanya hemat, dan hemat itu harusnya murah. Green Campaign dari negeri seberangBergelut dengan ide-ide ramah lingkungan, membuat kami selalu terus melakukan studi dan riset kecil-kecilan melalui buku, majalah, ataupun ineternet. Dari sana, kami banyak mendapat berbagai macam ide yang sudah digunakan oleh orang-orang barat khususnya dari negara-negara maju. Namun, mengapa satu pertanyaan besar malah menyempil di benak saya: Apakah hemat energi itu selalu menggunakan teknologi tinggi? Apakah ramah lingkungan itu menyedot biaya operasional yang besar pada awal pembangunannya? Mengapa pertanyaan ini muncul dalam benak saya? Karena proyek percontohan yang didapat kebanyakan adalah bangunan yang menggunakan panel surya, kincir angin, turbin, dan pengolahan air dengan menggunakan mesin yang dijalankan juga menggunakan tenaga matahari. Green Campaign di negeri seberang seolah-olah sudah diterjemahkan menjadi green gadget. Kalau tidak pakai teknologi tinggi seolah-olah namanya bukan” Green”. Beberapa hari yang lalu, seorang tenaga ahli ME (mechanical electrical building) mampir ke kantor kami. Kepala Studio kami mengundangnya untuk berkonsultasi tentang pemasangan panel surya yang akan digunakan pada salah satu proyek kami, proyek gedung bertingkat di Makassar. Dari pembicaraan tersebut, saya baru tahu bahwa harga panel surya berkisaran 20 dollar-30 dollar per meter persegi. Kalau panel yang digunakan mencapai 24 m2 (sekitar 24 panel yang berfungsi menyimpan energi surya selama 4 jam), total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 480 dollar (sekitarRp. 4.800.000). Agaknya biaya tersebut hanya bisa dijangkau oleh masyarakat menengah ke atas yang memang memiliki penghasilan di atas rata-rata yang ingin rumahnya dipasang panel surya. Lalu, akhirnya muncul lagi dalam benak saya sebuah pertanyaan: Dapatkah hemat energi, ramah lingkungan, berharga murah dan terjangkau? Rumah adalah jendela dan pintu kemana sajaDalam konteks ini, saya sebagai arsitek selalu melihat rumah sebagai lingkungan inti pembentuk diri dan jiwa kita. Dari rumah, kita tumbuh menjadi sebuah pribadi yang mengenal dunia. Rumah adalah jendela dan pintu kemana saja untuk memasuki dunia lain yang penuh dengan petualangan yang mengesankan. Hidup seseorang bisa jadi rusak kalau rumahnya rusak. Iya, bagi saya rumah adalah awal. Prolog bagi sebuah cerita kehidupan yang pastinya mengesankan. Contohnya begini. Bagaimana seseorang dapat belajar untuk menjadi pelajar yang berprestasi kalau plafond kamarnya selalu bocor sehingga dia tidak dapat belajar dengan tenang. Dia bisa saja sih belajar di ruang tamu, namuan apakah dia akan merasakan ketenangan yang sama ketika dia belajar di kamarnya sendiri? Atau, bagaimana seorang anak dapat betah di rumahnya, kalau rumahnya sempit, tidak ada taman luas untuk bermain bola bersama ayahnya atau temannya? Atau bagaimana seorang anak dapat hidup secara sehat kalau rumahnya tidak dialiri udara alami dan cahaya matahari yang nyaman? Mengandalkan AC dan lampu buatan? Lalu listriknya bagaimana? Terlebih lagi, kesehatan si anak bagaimana? Sekali lagi, kisah hidup kita dimulai dari hal yang kecil. Kali ini, saya akan berkata dari rumah. Dalam konteks ini pula, saya melihat rumah sebagai inti dari keberlanjutan dan semangat berhemat terhadap energi itu sendiri. Ramah lingkungan diawali dari rumah sendiri. Pada akhirnya yang terpenting dari diri kita adalah bagaimana cara kita dalam meyakinkan anak-anak kita untuk tidak menyalakan AC secara berebihan, memakai lampu di rumah secara berlebihan, dan membuang air berlebihan. Kita selalu bertanya, apakah yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita kelak? Namun, apakah kita juga sering bertanya, apakah kita sudah pernah menyuruh anak cucu kita untuk berhemat tentang energi yang kita gunakan sehari-hari? Mari kita mulai bertanya. Dan mari mulakan semangat hemat energi dari rumah sendiri. Mencari jalan lain menuju penghematan dan pengramahan lingkunganSebagai intermezzo saja, saya selalu heran mengapa banyak produk yang diolah dari barang-barang remeh dan barang-barang bekas yang harganya mahal? Padahal saya yakin, barang-barang bekas itu tadi seperti bungkus deterjen, bungkus mie instant, dan semacamnya didapat dengan harga murah. Namun, mengapa harga jualnya menjadi mahal? Untuk sebuah produk daur ulang, saya pikir harganya bisa dijangkau oleh semua orang, mengingat penduduk miskin Indonesia yang miskin jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang penduduk kayanya. Lalu, apakah mereka akan dapat berpikir untuk menyelamatkan lingkungan? Mungkin saja. Kalau mereka menjadi pengepul barang-barang rongsok yang akan diolah itu tadi. Namun agaknya, mereka akan lebih senang bagaimana caranya mendapatkan uang daripada memikirkan pertanyaan, “Apakah bumi kita akan terus dilestarikan dengan baik?” Ah, itu kan pikiran orang-orang kaya, orang miskin kayak kita mendingan cari duit aja deh, biar besok bisa makan. Pembahasan ini, diangkat untuk menjawab pertanyaan yang muncul di awal tadi: Dapatkah hemat energi, ramah lingkungan, berharga murah dan terjangkau? Ya, dapatkah? Tentu tidak, kalau referensi kita adalah hanya berdasarkan pada panel surya yang harganya melangit, atau pada lampu hemat energi (LED) yang harganya jauh dari harga normal. Ide kecil untuk perubahan besarBekerja di studio ini, memang menyenangkan. Penuh dengan eksperimen lucu dan unik. Banyak hal kecil yang ternyata pada akhirnya memberikan kontribusi besar terhadap pola dan sirkulasi energi khususnya yang dibentuk dalam rumah yang dibangun. Tidak perlu muluk-muluk. Problem yang kita miliki dalam rumah tinggal kita yang pada akhirnya menyebabkan masalah pada kebutuhan energi kita khususnya listrik yang membuat rekening kita membengkak tak lain dan tak bukan adalah masalah penghawaan dan pencahayaan. Ongkos listrik kita kebanyakan dikeluarkan untuk menyuplai kedua hal itu. Kita hidup di negeri dengan iklim tropis yang banjir cahaya dan udara, khususnya di siang hari. Sebenarnya dengan memanfaatkan cahaya alami matahari, kita sudah menghemat sebagian besar uang kita. Kita tidak perlu menyalakan lampu, kalau cahaya matahari masuk dengan mudah ketika siang hari. Kita juga tidak perlu menyalakan AC, kalau penghawaan kita berfungsi dengan baik. Ventilasi terdesain dengan baik dan udara dapat masuk secara menyenangkan.  Pencahayaan yang baik dan penghawaan yang lancar akan menghemat dompet kita daripemborosan listrikSelain itu, ada energi lain yang sering kita gunakan, namun seringkali kita buang-buang. Yaitu air. Kita seringkali sedikit bingung, apakah air hujan yang turun, langsung kita buang ke saluran pembuangan atau kita manfaatkan? Ada sebuah ide sederhana yang selalu digunakan keluarga saya di Pontianak. Pontianak adalah daerah yang air sumurnya kurang jernih. Kebanyakan dari mereka menggunakan air hujan sebagai sumber air minum dan masak. Mereka membuat talang air yang besar di atap, menghubungkannya dengan pipa paralon yang panjang lalu mengarahkannya ke tandon air yang ditanam di dalam tanah. Suatu waktu kalau sumur mengering, air yang sudah tersimpan di dalam tandon yang dikubur di dalam tanah seperti sumur tadi disedot menggunakan pompa air. Sederhana bukan? Dengan teknologi sederhana ini, kita pun dapat menghemat energi secara sederhana. Lalu, bagaimana dengan air buangan dari kamar mandi ataupun dapur? Ada sebuah sistem sederhana yang sudah sering diapakai di negara-negara maju. Air-air buangan disaring dan disimpan di dalam sebuah sumur penyimpanan. Untuk kemudian disedot dan dialirkan lagi sebagai air yang menjadi sumber bagi kehidupan tanaman-tanaman di kebun milik kita sendiri. Teknologi ini cukup sederhana. Hanya menyiapkan tempat berupa bak-bak yang akan digunakan sebagai penyimpan air kotor. Lalu air kotor itu dialirkan dengan menggunakan pompa yang kemudian dialirkan ke tanaman-tanaman yang juga berfungsi sebagai penyaring kotoran. Cara ini sederhana, dan tentu saja siklus alam menjadi seimbang. Dari tanah, kembali ke tanah. contoh penerapan WWG, kita tidak tahu kalau air yang digunakan adalah air kotor, yang kita lihat hanyalah taman asri dengan desain yang unik Menyusupkan bambu di tengah kebun Bambu, adalah pohon yang mengesankan. Sebagai tanaman ia memiliki manfaat yang begitu besar dan tak kalah dengan pohon-pohon kayu berbatang besar lainnya. Penyerapan CO2 yang dimiliki bambu begitu besar. Bambu juga mampu menyimpan air tanah yang cukup banyak. Di Bali, banyak desa yang telah sukses menggunakan bambu sebagai tanaman hutan rakyat. Hasilnya telah membantu dalam penjagaan air tanah. Selain itu, tanaman bambu yang dapat dipanen 3-6 tahun (tidak seperti pohon kayu lainnya yang rata-rata dipanen minimal 10 tahun), bambu meningkatkan produktivitas warga sekita desa tersebut dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Dengan begitu, siklus hidup antara manusia dan alam kembali berjalan dalam sebuah keseimbangan yang teratur. Bambu juga dapat menjadi material alternatif dalam merancang rumah. Perlakuannya, bisa dijadikan sebagai elemen dekorasi eksterior rumah, lantai, dinding, ataupun plafond. Mengenai ketahanannya, bambu mampu bertahan sampai 10 tahun. Kalau sudah lapuk bagaimana? Kan kita sudah menabung di kebun. Menabung bambu. Mambiarkannya beranak pinak di kebun kita hingga suatu saat dapat kita panen dan kita gunakan sebagai pengganti material yang lapuk di rumah kita. Dengan begitu, tukang bangunan kenalan kita juga akan mendapatkan orderan lagi. Mereka bisa kembali bekerja dan menafkahi keluarga mereka. Rumah ramah yang murahDi sini, saya teringat sebuah buku yang terakhir saya baca. Berjudul “Perang Bubat”. Sebuah kisah peperangan legendaris antara Sunda dan Jawa yang melibatkan Gadjah Mada dan Putri Dyah Pitaloka. Bukan perangnya yang saya soroti, namun ada sebuah kilasan yang menarik tentang penggunaan minyak jarak dan penghormatan terhadap lingkungan. Masyarakat Sunda jaman dahulu di abad pertengahan dikisahkan menanampohon Jarak untuk membuat minyak yang akan digunakan sebagai minyak pembakar lentera mereka. Orang jaman dulu ternyata sudah memiliki pengetahuan yang mengesankan. Mereka menggunakan energi yang dapat tergantikan dan beranak pinak. Tidak akan pernah habis kecuali tanah yang digunakan untuk bercocok tanam mendadak fertil. Kemudian, saya berpikir dan merenung. Lantas bertanya kembali tentang dua buah pertanyaan yang tadi saya lontarkan: Pertama, dapatkah hemat energi, ramah lingkungan, berharga murah dan terjangkau? Kedua, apakah kita akan menyuruh anak cucu kita untuk berhemat tentang energi yang kita gunakan sehari-hari? Setahu saya, untuk jawaban pertama sudah banyak dan sering dijawab oleh restoran di Indonesia. Paket hemat selalu murah… Dan jawaban untuk pertanyaan kedua adalah, saya akan menjadi sangat galak kalau-kalau anak saya menyalakan AC di siang hari dengan jendela terbuka. Mari menjadi galak di rumah sendiri ketika ada yang membuang-buang energi seenaknya. Karena kita pasti tidak ingin bertanya, “Akan kita sisakan apa untuk anak cucu kita kelak?” *Arsitek Junior, Genesis Architect Bandung Posted by anjar on Jan 15, '11 8:55 AM for everyone Ada seorang klien di kantor tempat saya bekerja memiliki seorang anak autis. Seperti pengidap autis lainnya, dan seperti manusia yang terbatas indera-nya, ketika 1 indera dalam diri manusia itu dimatikan, indera lainnya akan menggantikan posisinya secara utuh. Ada kelebihan yang mengesankan di antara sebuah kekurangan. Begitu juga anak ini. Anak ini berusia 10 tahun, namun memiliki bakat menulis yang luar biasa. Ia pun akhirnya terbiasa berkomunikasi dengan ayah ibunya menggunakan tulisan. Ia gemar menulis puisi. Ada sebuah kalimat yang pernah diciptakannya yang saya dengar dari teman saya. Ia menulis di laptopnya kira-kira begini, "saya senang ke bioskop. Bioskop adalah tamasya yang damai..." Tuhan Maha Adil. Memberikan kelebihan yang luar biasa, di balik sebuah keterbatasan. Saya begitu terkesan dengan kalimat itu. Bagaimana mungkin anak umur 10 tahun bisa membuat kalimat seperti itu? Mengesankan. Namun, saya cukup tergelak ketika teman saya tadi bercerita bahwa anak itu menyebut dirinya "penyair haru". Karena dia hanya bisa menulis puisi ketika sedang hatinya haru. Sedang gundah. Saya jadi teringat, diri saya di beberapa bulan lalu dan setahun lalu, yang menyelesaikan beberapa naskah buku dan jurnal harian saya dalam keadaan gundah. Rasanya plong gitu. Saya juga teringat film Moulin Rouge dimana tokoh utamanya menulis sebuah kisah di malam yang gelap, haya terkena cahaya bulan sedikit, sambil meneteskan air mata, ia menulis tentang kekasihnya yang meninggal. Juga perjuangan cinta mereka. Lalu, teringat beberapa penulis yang berkarya ketika masuk penjara seperti Pram, Sayid Quthb, Soekarno, Imam Samudera, dan lain sebagainya. Atau seperti R.A Kartini yang menulis kegundahannya ketika menemui sebuah bentuk nyata domiasi laki-laki dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan. J.K. Rowling pun begitu. Menciptakan Harry Potter ketika sedang lapar dan memikirkan anak-anaknya di rumah yang menunggu dirinya membawakan makanan. Entah mengapa manusia selalu seperti ini. Kebanyakan manusia tadi berkarya dengan awalan yang sakit, sedih, haru, gundah, syahdu. Mengapa semua berawal dari kegelisahan? Mengapa belum ada yang mengawali sebuah karya dari kesenangan, hobi, atau karena hatinya memangs ednag bahagia. Sulit sekali agaknya. Bahkan, Ayu Utami dalam sebuah wawancara Kompas di rubrik tokoh menyebutkan bahwa dia tidak akan berhenti menulis sampai negeri ini membaik, kalau negeri ini sudah baik, barulah dia berhenti menulis (itu berarti dia tidak akan berhenti menulis, karena negeri ini agaknya tidak akan pernah membaik, kalaupun membaik, mungkin Ayu Utami saat itu sudah meninggal). Sejujurnya, beberapa bulan terakhir ini saya merasa senang dalam hati saya. Impian saya terkabul. Punya pacar, tinggal di sebuah kota dan bekerja di sebuah biro yang saya inginkan sejak dulu. Namun, ada yang mengganjal. Saya tidak bisa menulis selancar dulu lagi. Ada apa gerangan? Saya pun akhirnya paham setelah diberitahu olah pacar saya bahwa mungkin karena dulu saya menulis dalam keadaan yang nelangsa, sedih, dan selalu gundah. Ketika dihadapkan di sebuah keadaan yang berkebalikan dari sebelumnya, saya seperti kehilangan semangat. Tidak mampu menulis dan sering kehilangan kata-kata. Sekarang saya mencoba belajar, bagaimana agar saya bisa menulis di setiap kondisi, entah kondisi terdesak ataupun kondisi yang melegakan. Seperti mencoba untuk bersyukur dikala sulit ataupun senang. Terlebih lagi, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, belum ada lagi naskah yang saya tulis, baik fiksi maupun non-fiksi. Padahal dulu, saya bisa bertahan menulis sampai jam 3 pagi. Terlebih lagi, ketika kita menuliskan sesuatu, itu bisa berarti kita mencoba jujur dengan diri kita sendiri. Kalau tidak berani dan tidak bisa mengucapkan secara verbal, biasanya seseorang akan menuliskannya dengan kata-kata. Bahkan ada seorang arsitek kondang Indonesia yang gaya berbicaranya abstrak, tidak jelas dia ngomong apa, mengawang-awang, namun, ketika dia menulis, tulisannya begitu menyihir dengan makna yang mendalam (Silakan cari di toko buku judulnya Relativitas, 2005. Penulis: Adi Purnomo). Saya baru diberitahu bahwa dengan jujur mengekspresikan sesuatu, kita bisa mengurangi dampak terkena serangan jantung. Mungkin ini karena ketika kita menulis sesuatu, setelahnya hati kita merasa tenang. Plong aja rasanya. Saat itu, mungkin endorfin keluar dan membuat otak kita merasa rileks kali ya. Tapi, yang pasti, ini menjadikan sebuah kesimpulan baru buat saya. Bahwa hal yang dikejar manusia di dunia ini adalah kebahagiaan. Murni kebahagiaan. Perasaan senang dan bahagia. Karena, penulis-penulis yang berkarya ketika mereka gundah, pasti mencari kepuasan dan ketenangan jiwa dari hasil tulisan yang mereka buat, atau sensasi yang mereka rasakan setelah menulis atau ketika sedang menulis. Kejujuran yang mereka ekspresikan lewat karya mereka membuat mereka bahagia. Ah, semoga saja. Anak autis tadi ketika dewasanya menjadi penulis yang berbahagia. Tidak hanya penyair haru, namun penyair haru dan berbahagia. Lalu, apa hubungannya dengan pendekar biru? Biru. Dikisahkan menjadi kondisi dimana kita sedang sakit. Sedih. Haru. Yang membeku dan membiru (Vina Panduwinata, Biru) My yesterday was blue, dear (Jammie Cullum, What a diffenrence a day made) Suatu malam yang biru tanpa dirimu (Malam Biru, Sandhy Sondhoro) Are you ready to Say goodbye To all these blues? (Kiss A Girl, Keith Urban) Batman, walaupun kostumnya berwarna hitam, memulai karirnya sebagai superhero dengan hati yang nelangsa. Bapak Ibunya mati dalam sebuah konspirasi untuk menghancurkan Gotham City. Peter Aprker juga begitu. Mengawali kisah hidupnya sebagai Spiderman setelah pamannya dibunuh oleh perampok. Begitu juga dengan Superman, Iron man, dan superhero berkostum lainnya. Dan mengapa Superhero diciptakan? Superhero diciptakan era 30-an sampai 70-an sebagai bentuk kritik para komikus terhadap aparat keamanan Amerika yang kurang becus menangani masalah kemanan lingkungan, khususnya karena gangster ataupun mafia yang sering meresahkan Amerika pada waktu itu. Lagi-lagi dari kegelisahan, bukan? Tapi perlu diingat, bentuk kegelisahan ini pada akhirnya membuat hal yang pertama adalah "kritik" tadi kemudian bertransformasi menjadi bisnis triliyunan dollar dan merambah box office di era millenium ini. Kegelisahan memang menguntungkan, ya? Apapun namanya, kegelisahan tetaplah kegelisahan. Tetap tidak enak, walaupun akhirnya tersalurkan. Pada akhir tulisan ini, saya akui... segala perubahan itu berawal dari kegelisahan... Bahkan beberapa kali adalah sebuah bentuk penderitaan... Yang perlu kita jaga, adalah kondisi ketika kita telah berubah. Menjaganya agar selalu konsisten dan tidka menimbulkan kegelisahan baru bagi diri kita sendiri... BDG, 150111 Posted by anjar on Jan 7, '11 11:26 PM for everyone II. Tuhan di ruang tunggu Sayang, aku mau cerita lagi. Ada dua sakit dalam dua bulan terakhir ini yang sering kualami. Pertama, diare. Mungkin kamu tahu ini. karena kamu adalah orang pertama yang selalu menjadi tempat aduanku ketika aku sakit. Aku sudah kena diare 3x dalam satu bulan. Entah kenapa. Makanannya padahal biasa saja. Mungkin penyesuaian karena udara dan air di sini begitu dingin. Menusuk sekali rasanya. Sakit kedua yang belum pernah kuceritakan adalah... Sakit mata. Bukan karena apa-apa. Tapi karena di sini terlalu banyak pemandangan indah. Cewek kece bertebaran dimana-mana. Mencari yang jelek dan biasa saja di sini sulit sekali. Bahkan suatu kali, aku pernah berbincang dengan teman melalui chat box di FB, dia mengakui bahwa dia lebih suka pemandangan lugu gadis jogja yang tampil apa adanya, tidak dengan bedak menor. Dia juga menjelaskan kalau di sini, cewek-cewek kece itu sudah banyak sidik jarinya (digrepe-grepe). Setiap menjumpai cewek kece, aku selalu merindukanmu. Merindukan pemandangan sejuk dan meneduhkan. Bukan pemadangan cewek-cewek kece yang bikin sakit mata ini. Aduh. Tapi, mau bagaimana lagi. Cewek kece ini seperti arsitektur sebuah bangunan. Tidak bisa dihindari bentuk ataupun visualisasinya kalau kita melintasi bangunan itu. Paling-paling, kita hanya bisa melalui jalan memutar untuk menghindarinya. Tapi, suatu hari, ada pemandangan yang lumayan menenangkan saat aku menunggu di sebuah selasar pusat perbelanjaan ketika menunggu temanku yang akan menjemputku di sana. Saat itu, di sana ada ibu-ibu yang duduk di depan sebuah ruangan ATM, menunggu keluarganya yang sedang mengambil uang di mesin ATM. Seorang Ibu Tiong Hoa paruh baya. Ia lalu mengeluarkan tasbih. Menggenggamnya di tangan kanan lalu merapal doa. Dalam penungguan yang singkat itu, si Ibu menyempatkan diri untuk mengingat Tuhannya. Ada Tuhan di ruang tunggu. Di pusat perbelanjaan ini, orang-orang bersliweran. Kebanyakan cewek kece dalam balutan kostum berwarna-warni seperti jemuran berjalan. Kadang pula mereka bergandengan dengan cowok mereka yang agaknya sudah menorehkan sidik jari yang cukup banyak di badan mereka. Di pusat perbelanjaan ini... di tengah hingar bingar kehidupan Urban... seorang Ibu duduk sendirian, menunggui keluarganya dalam waktu yang singkat... menggenggam tasbih... merapal doa.. Ah, andai saja yang sedang menggenggam tasbih sambil merapal doa itu adalah seorang cewek kece, mulus, langsing, dan good looking. Mungkin pemandangannya akan menjadi lebih sejuk dan syahdu (ngarep). Tapi, agaknya itu tidak mungkin. Karena cewek-cewek kece itu pastinya akan mengganti tasbih dengan BB kesayangannya. Ia juga melakukan ritual doa dengan tasbih urban-nya yang bermerk Blackberry. Memencet tombol BB sambil mulutnya komat-kamit membaca pesan yang masuk ke BB mereka. taktuktaktuktaktuk... Tombol BB berbunyi... Ah, temanku udah datang... Kami pun pergi... Dan ibu itu... masih saja merapal doa dengan tasbih di tangannya... Saya pun malu akan diri saya sendiri... Semoga suatu saat, di ruang tunggu saya bisa mengingat Tuhan. Sesingkat apapun penungguan itu. Setidaknya agar tidak sakit mata. BDG,080111 Posted by anjar on Dec 30, '10 6:31 AM for everyone I. Cinta di sebuah kotak sempit 2.5 x 2.5
Hei. Apa yang selalu kurindukan setiap hari? Meneleponmu setelah pulang dari kantor setiap malamnya. Aku rindu. Aku ingin selalu menceritakan kejadian hari ini. Ini kulakukan karena aku merasa tidak sempat merekam kisah-kisah itu di sebuah jurnal rutin. Setidaknya, aku bisa menceritakan dan menikmatinya bersamamu. Kisah hari ini, hari esok, dan hari-hari seterusnya. Hari-hari ringan dan berat dimana aku harus tetap menjalani kehidupan sebagai manusia, yang dewasa. Ah... Ingin sekali aku menulis lagi jurnal harian yang dulu rutin kulakukan dan membaginya bersamamu. Membacanya bersama-sama seperti dulu. Namun, apa yang aku dapatkan dari kotak sempit 2.5 x 2.5 ini, Sayang? Tidak ada. Kotak ini minim akan inspirasi. Membuatku hanya mengantuk dan mengantuk. Sempit pula. Err... sebenarnya kotak ini tidak terlalu sempit. Hanya saja, kondisi sekelilingnya yang membuat kotak ini menjadi begitu sempit. Dindingnya tipis, kotak-kotak tetangga begitu dekat sampai-sampai mulutku begitu dekat dengan telinga mereka. Setiap malam, di sebelah kotak ini banyak pemuda kampung yang berkumpul membentuk barisan yang saling berhadapan. mereka nongkrong, menyanyikan lagu cinta, membincangkan sepakbola, motor kesayangan, bahkan suatu malam mereka membunyikan mesin motor mereka yang baru saja dimodifikasi knalpotnya. Ah, berisik sekali. Ingin rasanya aku meneriaki mereka, "Hei, bisa diem gak sih?!" Namun, belum hal itu kuurungkan karena induk semangku saja tidak melakukannya. Suatu malam juga, asap knalpot itu masuk ke kotakku ini. Aku merasa tersiksa sekali.Kalau begini setiap malam, bisa-bisa aku kena kanker paru-paru. Sial Hmm... mengapa, aku mengatakan tadi bahwa kotak ini sebenarnya tidak terlalu sempit. Itu karena kalau disekeliling kotak ini adalah kolam lotus yang luas, dipenuhi dengan ikan-ikan yang berwarna-warni dan gemericik air yang menyenangkan, kotak ini pasti akan menjadi begitu luas. Inspirasi begitu maksimalis. Setiap hari mungkin aku bisa memproduksi jurnal-jurnal harian secara rutin. Ah... Sayang, maafkan aku. Kadang kala aku harus berbicara denganmu menggunakan suara yang begitu pelan. aku tdiak ingin bocah-bocah di sebelah kotakku mendengar perbincangan kita. Apalagi kalau pas aku mengatakan kepadamu, "aku sayang kamu,". Bisa-bisa diejeknya aku ini. Suatu malam aku ingat. Saat itu aku sedang menyanyi untukmu di telepon. Mungkin suarauku ini yang terlalu keras, jadi setelahnya mereka juga menyanyikan lagu yang sama secara bersama-sama. Dengan keras. Kadang kala, aku juga sedikit malu kalau not yang kuambil tidak terlalu pas, karena di sebelahku persis adalah kotak milik anak induk semang yang pintar bermain piano. Setiap hari sabtu ia bermain piano. Aku jadi ngiri. Ah... Kotak ini sempit. Tak apa kan kalau aku menyalahkan kotak ini? Karena kotak ini, aku tak dapat mengumpulkan inspirasi yang cukup banyak. Belum lagi, aku tidak bisa menjadi begitu ekspresif dalam menyampaikan rasa cintaku seperti dulu... Sayang... Tapi, tenang saja. Kotak ini memang sempit, namun akan selalu ada cinta di dalamnya. Aku berjanji. ... 
Seberapa besar adalah besar, seberapa sempit adalah sempit
Posted by anjar on Oct 7, '10 6:33 AM for everyone
Dulu, orang-orang dapat melihat matahari dengan mudah. Matahari bersinar terang tanpa penghalang suatu apapun. Orang pun dapat dengan mudah membuktikan secara langsung sebuah fakta penciptaan yang tak terbantahkan:
“Bahwa matahari itu adalah sebuah benda besar yang berbentuk lingkaran dengan cahaya yang begitu menyilaukan.”
Matahari juga merupakan teman setia anak-anak kecil ketika sedang bermain sepakbola, bermain layang-layang, atau sekadar duduk di bawah pohon rindang. Langit kala itu juga tampak begitu biru, jernih, dan dihiasi oleh awan-awan putih cemerlang. Awan-awan itu berbentuk macam-macam. Kadang menyerupai seekor gurita raksasa, sebuah kapal besar, atau bahkan berbentuk burung-burung gereja yang sedang beterbangan.
Setidaknya itu yang tergambar di benak seorang anak laki-laki bernama Adam ketika menyaksikan gambar tua milik kakek buyutnya. Sebuah gambar pemandangan kota dengan komposisi yang tergambarkan tadi: pohon-pohon rindang, langit biru, awan putih, dan beberapa anak yang sedang bermain layang-layang di alun-alun kota. Namun, sepertinya gambar tua yang berusia ratusan tahun itu kini telah menjadi sebuah angan kosong yang takkan dilihat oleh anak-anak jaman sekarang. Gambar ini udah kadaluarsa, kata Adam dalam hati.
Siang ini masih sama seperti siang-siang sebelumnya. Panas, matahari begitu menyengat, kabut pekat berwarna abu-abu kecokelatan menghiasi langit, dan air berwarna kehitaman di dataran bawah sedang mendidih. Siang ini semua manusia berada di sebuah tempat yang membuat mereka aman, yaitu tempat tidur yang berada di sebuah kamar di menara-menara tidur, gorden super tebal yang menutupi jendela-jendela kamar, dan krim pelindung matahari yang menyelimuti kulit-kulit mereka agar tidak melepuh karena radiasi matahari yang begitu menusuk. Tapi, siang ini Adam sepertinya tak dapat memejamkan mata. Ia terpaku pada gambar milik kakeknya.
Adam menatap gambar itu dengan tatapan heran. Ia begitu penasaran dengan gambar itu. Lalu, bertanya kepada orang tuanya apa makna dari gambar tersebut. Orang tuanya hanya diam. Mereka tidak tahu apa-apa tentang itu. Ketika Adam telah membuat mereka kesal, Adam pun dimarahinya dan disuruhnya agar diam. Adam masih ingin bertanya, dan itu membuat orang tua Adam cukup kesal, bahkan sangat kesal. Namun, pertanyaannya yang terakhir berusaha dijawab dengan jawaban yang cukup bijaksana oleh sang Ayah, “Itu jaman dulu, Nak. Sekarang jaman sudah berganti. Kau harus tidur di siang hari agar tetap bertahan. Sekarang, tidurlah!”
Ya, itu dulu. Sewaktu kakek-kakek buyut Adam masih hidup. Sekarang, jamannya sudah berubah. Bumi semakin tua dan semakin sekarat. Matahari sudah tidak menjadi sahabat manusia, langit biru telah hilang beratus-ratus tahun yang lalu, dan lapisan tanah telah tertutup sepenuhnya oleh air yang datang tiba-tiba dalam jumlah besar. Saat ini, tanah sudah menjadi sejarah, dan air menjadi begitu populer. Kemudian, langit adalah teman setia manusia yang kedua setelah air. Manusia kini sudah semakin tinggi menjulang ke langit. Berdiri di atas menara-menara tinggi. Menghindari air yang tiba-tiba panas. Sekejap kemudian mendidih. Menara-menara itu dibuat agar manusia tetap bertahan hidup dan menjaga keberlangsungan ras-nya. Agar tidak tenggelam dan menghindari matahari yang semakin ganas.
Dan Adam… masih belum dapat memejamkan matanya.
***
Adam tinggal di sebuah menara yang begitu tinggi. Mengenai menara itu, menara itu adalah salah satu dari sekian banyak menara yang berdiri menantang langit di sebuah kota yang bernama Jakarta. Ada yang bentuknya seperti pipa berbentuk silinder yang super besar, ada yang berbentuknya pipih, ada yang berbentuk seperti kerucut yang seolah-olah sedang menusuk langit, dan ada pula yang berbentuk oval seperti cangkang telur, namun begitu besar dan tinggi. Menara Adam adalah yang berbentuk pipih dan menjulang tinggi. Menara itu dihuni oleh mereka yang tersingkirkan. Pengemis dan pekerja kasar. Mereka dikumpulkan menjadi satu di sana. Menaranya begitu kotor, tidak terurus, dan akhir-akhir ini banyak penduduknya yang terkena wabah penyakit. Di sana, Adam tinggal dan melanjutkan hidupnya sebagai manusia abad ke-23.
Tidak seperti menara-menara lainnya, menara yang dihuni Adam tidak memiliki taman yang berada di dalam menara dimana anak-anak dapat belajar mengenai struktur penyusun tanah, tumbuhan, atau matahari buatan yang lebih ramah. Di menara ini, semuanya hanya berupa tempat tinggal yang kumuh dan bau. Tidak ada taman. Entah mengapa pemerintah kurang begitu memperhatikan keadaan menara ini. Namun, ada sebuah tempat menarik yang selalu menjadi kegemaran anak-anak ketika malam tiba. Apalagi saat itu, kalau bulan sedang purnama dan mengintip di balik kabut-kabut pekat berwarna coklat. Tempat itu, biasanya digunakan mereka untuk bermain sepakbola, bermain tali, dan bermain apa saja bersama teman-teman mereka. Tempat itu mereka beri nama “loteng berpendar.” Sebuah tempat yang terletak di lantai paling atas menara tinggi itu. Kalau malam, loteng itu memendarkan cahaya bulan yang menghangatkan.
Suatu hari, ada sebuah kecelakaan yang begitu memilukan. Sondro, teman sebaya Adam terjatuh dari loteng berpendar. Ia tidak sengaja terjatuh ketika duduk-duduk di bibir menara lantai paling atas. Sapu tangannya terbang tertiup angin dan ia berusaha meraihnya. Namun apa daya, sapu tangannya tak dapat ia raih, malah membuatnya celaka. Sondro tercebut ke dalam air yang pekat karena polusi. Malam membuat air tersebut tampak lebih hitam dan mengerikan. Semua orang berusaha mencarinya. Karena pada waktu malam, suhu air tidak begitu panas, orang-orang dapat dengan mudah menyusuri dataran yang sudah tertutupi air beratus-ratus tahun itu dengan perahu-perahu kecil mereka. Tapi, sayang pencarian tidak membuahkan hasil. Semua orang ikut berduka karenanya. Karena peristiwa itu, kini anak-anak tidak boleh lagi bermain di atap menara. Mereka kini kehilangan loteng berpendar yag begitu mereka banggakan. Semua anak bersedih, tidak terkecuali Adam.
***
Gambar itu kini digenggamnya. Erat. Sebuah gambar langit biru dan awan putih berbentuk gurita raksasa dan kapal besar dengan pohon beserta anak-anak yang sedang bermain sebagai penghiasnya. Matanya belum terpejam. Masih meraba-raba langit biru dan awan gurita raksasa. Gambar itu lalu menggiringnya untuk mengingat lagi kejadian pilu tadi malam. Saat Sondro jatuh dari loteng berpendar dan tidak ditemukan. Ia hanya terbaring di kasurnya, ditemani Ibu tercinta. Tanpa disadari, ia sudah menangis.
Ibu menyadari anaknya belum dapat memejamkan mata lantas bertanya, “Ada apa, Adam?”
Adam menjawab, “Bu, kenapa langit di gambar kakek Yut warnanya biru?”
Ibu tersenyum lalu menjawab, “Tanya sama kakek Yut aja. Nanti kamu pasti ketemu di dalam mimpi.”
Adam mengangguk, ia lalu bertanya lagi, “Bu, kalau siang cahayanya terang tapi nggak panas, mungkin Sondro bisa kita cari, ya?”
Ibu tersentak, lalu menjawab dengan bijak, “Kamu tidur saja. Jangan lupa berdoa supaya Sondro besok malam bisa ditemukan, ya. Sudah, tidur saja sekarang, ya. Mau Ibu nyanyikan lagu biar kamu tidur?”
Adam mengangguk lagi. Ibunya mulai mendendangkan lagu untuknya. Dalam diam, Adam berharap, “Semoga mimpi ketemu Kakek Yut…”
Ah,
Dan juga, “Semoga mimpi melihat langit biru…”
Posted by anjar on Sep 6, '10 2:09 AM for everyone 
Saat membaca kembali seri detektif Hercule Poirot yang telah lama saya tinggalkan kemarin, saya sadar. Saya hampir kehilangan cara meramu detil-detil kejadian sebuah penceritaan tentang suatu peristiwa. Gaya cerita Agatha Christie begitu detil, menyeluruh cukup membius sekaligus membuat saya pusing. Semua kondisi dia ceritakan, semua setting yang membangun cerita dia ceritakan, bahkan sampai hal-hal terkecil dari hobi Poirot yaitu makan makanan yang manis dan cokelat panas pun dia ceritakan. Kalau saja, yang membaca novel tersebut bukanlah orang yang menyukai detil-detil, kisah misteri, ataupun sedang belajar gaya bercerita, dijamin, dia akan memilih ayat-ayat cinta ketimbang novel tersebut. Karena menurut saya, novel yang terlalu detil adalah novel yang membosankan bagi orang awam yang menyukai sastra setengah-setengah.
Lalu, kembali ke kondisi kehilangan tadi… Pikiran saya akhir-akhir ini diliputi rasa cemas, takut. Dan rasa terburu-buru untuk memutuskan sesuatu sudah mulai menyergap. Saya menyadari, hal ini saya rasakan karena merupakan konsekuensi logis dari pilihan-pilihan hidup yang saya ambil. Saya sedikit kehilangan bagaimana caranya menikmati hidup dan enjoy beraktivitas. Ini adalah premis mayor dari kalimat “kehilangan meramu detil-detil”. Karena saya menyukai detil. Akhir-akhir ini... Semua yang saya lakukan adalah dalam rangka menyenangkan hati orang lain di sekitar saya. Orang lain. Lagi-lagi orang lain. Saya melupakan bahwa diri sendiri juga harus dipuaskan. Rasa-rasanya ingin sekali saya menceritakan mimpi tadi malam bagaimana saya telah mengintograsi seorang Hitler. Namun, saya tidak dapat menceritakannya kembali dalam sebuah kisah. Lupa detil-detil kejadiannya. Apa yang saya bincangkan dengan Hitler dalam mimpi saya tersebut, saya tidak ingat. Padahal, dulu saya sering mendapat ide cerita yang mengisi tulisan-tulisan cerpen atau flash fiction di Blog saya dari mimpi-mimpi yang saya dapatkan di malam-malam sebelumnya. Saat ini saya hanya mengingat, saya mengintrogasi Hitler tentang Perang Dunia II, lalu saya lupa. Di malam-malam sebelumnya, saya juga pernah bermimpi sebuah mimpi yang cukup erotis. Saya mencium seorang wanita, namun bukan pacar saya. Bukan hanya sebuah kecupan. Tapi, French kiss. Bibirnya begitu terasa lembut menyentuh bibir saya. Namun, kemudian kejadian beralih dengan sekejap menjadi sebuah adegan pembantaian massal oleh seorang psikopat yang membawa M16. Kalau tidak salah, ada sebuah adegan dimana saya dan banyak orang berkumpul di sebuah ruangan untuk mencari siapa penjahat yang telah membunuh seseorang di hari sebelumnya. Namun, ketika kebenaran terkuak, orang itu tiba-tiba mengeluarkan senapan mesin M16, dan mulai membantai orang-orang di sekitar, termasuk gadis yang saya cium tadi. Ketika kondisi sudah semakin memburuk, tiba-tiba saya terbangun. Jantung berdegup kencang namun masih meninggalkan rasa manis. Sedikit. Bibir wanita tadi masih terasa. Saya mulai takut dengan diri saya sendiri. Apakah saya mulai mengalami gangguan jiwa? Ataukah mimpi-mimpi itu merupakan metafora dari pikiran-pikiran yang akan digantikan? Pikiran lama akan dibunuh oleh pikiran-pikiran baru yang muncul. Penjajahan pemikiran dalam diri sendiri. Ah, mungkin juga ini terlalu berlebihan. Saya tidak tahu. Kalau kata pacar saya, otak saya mungkin mengalami penyesuaian dari yang dulunya berpikir analitik menjadi taktik. Dari yang dulunya berpikir konseptual, penuh dengan imaji dan pencitraan abstrak dalam otak, kemudian beranjak kearah pikiran yang selalu berurusan dengan keputusan-keputusan taktis dan realistis. Bagaimana membelanjakan uang, bagaimana caranya mengembalikan modal ke investor, dan bla-bla-bla lainnya yang bersifat taktikal. Yah… Lagi-lagi… Konsekuensi logis dari sebuah pilihan hidup. Hanya ada satu kesimpulan yang dapat saya ambil. Mungkin. Masalah kebahagiaan hidup adalah masalah pilihan. Lalu, sedikit mengutip Dee dalam “Perahu Kertas”, walaupun jalannya memutar, saya yakin suatu saat saya akan kembali menjadi seseorang yang merupakan “saya banget” dan saya menyukainya. Tidak. Lebih dari itu, saya mencintainya. Aku berpikir, maka aku ada. Bukan. Aku memilih, maka aku ada. Dan sebagai orang dewasa (sigh)… Suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus menjalaninya… Sigh… Pontianak, 5 September 2010 Kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu… Posted by anjar on Aug 24, '10 7:48 PM for everyone [Flash Fiction]
Ada seorang nenek tua yang tinggal sendirian di depan rumah kos ku. Umurnya kira-kira hampir kepala delapan. Ia tinggal di sebuah gubuk reot yang lebih pantas disebut kandang daripada rumah. Menurut kabar tetangga sekitar, anak-anak nenek itu meninggalkannya sendirian dengan alasan sudah tidak sanggup lagi mengurusnya.
Mbok.
Kami menyapanya seperti itu. Mbok sedikit sinting, tapi juga sedikit waras. Saat ia menjadi sinting, Mbok suka keluar dari kandangnya hanya dengan menggunakan kutang dan sempak. Ia juga sering kencing di comberan dekat rumah kos ku. Tingkahnya itu kerap menjadi simpati para tetangga. Kalau warasnya kumat, ia suka membersihkan halaman orang lain tanpa diminta, bercakap-cakap dengan tetangga sekitar, dan memasak makanannya sendiri dengan tungku kayu yang terletak di depan gubuknya. Namun, kadang pula kesintingan dan kewarasannya berkolaborasi dalam sebuah kesempatan: menyapu halaman di tengah malam.
Itulah Mbok. Ia juga sering menyapaku saat aku akan berangkat kuliah dengan gumaman aneh yang tak kumengerti apakah ia menggunakan bahasa Jawa atau menggunakan bahasa Alien. Sewaktu ia bergumam atau mungkin sebenarnya sedang menyapaku, aku hanya mengangguk kecil sambil melajukan sepeda motorku.
Malam ini, saat pulang dari kampus setelah beberapa hari menginap dan mengerjakan tugas kelompok di kampus, aku melewati jalan-jalan biasanya. Kulajukan sepeda motorku dalam kecepatan yang maksimal karena suasana sudah begitu lengang. Maklum, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Akhirnya aku pun tiba di gang yang menuju rumah kos ku.
Sepi.
Aku terus memacu sepeda motorku dengan kecepatan yang sedang dan konstan, tidak laju juga tidak pula pelan karena sudah masuk ke gang yang cukup sempit. Hingga sampailah aku di pos ronda dekat kos ku. Aku begitu terkejut ketika ada sesosok tubuh yang sedang duduk di sana. Badanku sedikit gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran. Sesaat kemudian aku sadar. Ternyata yang sedang duduk di pos ronda adalah Mbok yang mungkin sedang mengalami proses hibridasi antara sinting dan waras dalam dirinya. Aku mengangguk ke arahnya saat melintasi pos ronda. Ia membalas anggukanku. Fuh, malam yang aneh.
Namun, keanehan malam itu belum berakhir, karena selanjutnya terjadi percakapan yang lebih aneh antara aku dan teman kosku keesokan paginya.
Aku: “Tadi malam, pas lewat di pos ronda Mbok kumat lagi. Duduk sendirian di tengah malam.”
Teman kosku: (mendadak pucat) Aku: “Kenapa, bro? Sakit?”
Teman kosku: “ehm… Ngak apa-apa, kok.”
Aku: “Beneran?”
Teman kosku: “iya, beneran, kok… BTW itu beneran Mbok yang kamu lihat, bro?” (saat mengucapkan kalimat ini, ia terbata-bata, dan wajahnya semakin pucat.)
Aku: “Iya. Memangnya kenapa, sih?”
Teman kosku: “Mbok kan udah meninggal dua hari yang lalu.”
Aku: (Mendadak pucat, ditambah menelan ludah, dan keringat dingin bercucuran.)
Teman kosku: “Kenapa, bro? Sakit?”
Aku: “Iya. Aku boleh pingsan, kan?”
Sekejap kemudian, kepalaku berkunang-kunang. Mungkin saja sebentar lagi akan pingsan.
Kesimpulanku cuma satu: gubuknya Mbok sudah benar-benar berstatus kandang. Kandang kesepian.
Dan aku jadi pingsan.
Posted by anjar on Aug 11, '10 11:33 PM for everyone Lama sudah saya tak menyapa jurnal ini. Catatan terakhir saya terekam di angka 3, angka 07 dan angka 2010. Sebulan lebih saya tak menulis, padahal kalau kata Ayu Utami pada rubrik Sosok Kompas beberapa hari yang lalu, penulis harus disiplin untuk menulis setiap hari dan membaca banyak karya orang lain. Agar terus memiliki banyak ide dan inspirasi yang dapat dijadikan bahan tulisan. Sedangkan yang saya lakukan, sedikit menulis dan bosan membaca. Saya pun merasa bahwa saya adalah satu orang tambahan yang akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang malas membaca di negeri ini. Kalau jumlah orang-orang yang gemar membaca dan menerbitkan karya katakanlah hanya 30 persenan dari total penduduk negeri ini, maka bisa jadi sekarang saya menambah jumlah tersebut, tetap 30 persenan sih mungkin, tapi ketambahan satu orang, yaitu saya.
Shame on me…
Sebenarnya alasan saya hanya satu. Adaptasi.
Sepertinya, saya mulai memasuki tahap yang pernah diceritakan oleh seorang teman suatu hari. Tahap usia dua puluhan awal menuju usia dua puluhan matang. Pada tahap ini saya gelisah, mempertanyakan kembali siapa saya, merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa, dan kembali labil. Bahkan lebih labil daripada saat saya di usia remaja menuju usia dua puluhan awal.
Pada tahap ini saya semakin merasa sendiri. Teman saya semakin berkurang. Tidak seperti jaman-jaman sekolah atau kuliah dulu yang setidaknya saya masih memiliki teman sebanyak 239 orang tiap tahapan sekolah yang saya lalui. Semakin merasa yakin, bahwa saya suatu saat akan mati, menghuni kuburan sempit, gelap, penuh cacing dan amuba di dalamnya. Semakin merasa yakin, bahwa dosa saya banyak, dan amalan saya sedikit. Dan semakin merasa yakin, bahwa di depan mata saya adalah dunia nyata yang liar, ganas, dan siap menelan saya hidup-hidup. Dunia. Tempat saya, Anda, kita, mengumpulkan sebanyak mungkin bekal untuk menuju alam selanjutnya. Alam nyata yang sebenarnya.
Dan itu semua dilalui dengan seorang diri. Sendiri.
Memikul beban sendiri, membawa bekal sendiri. Semuanya sendiri.
Ah.
Mengeluh. Keluhan. Dikeluhkan.
Apa?
Maaf.
Saya gelisah menjalani proses adaptasi ini. Adaptasi di kehidupan yang sedang saya jalani ini. Maka dari itu, saya mencoba untuk mengekspresikannya kembali ke jurnal saya yang sudah sebulan lebih tak tersentuh ini.
Mungkin juga. Saya bosan. Yang pada akhirnya berimbas kepada suatu hal. Saya merasa tidak dapat menciptakan kalimat-kalimat keren lagi, atau setidaknya menurut saya keren.
Saat menulis kalimat ini, kepala saya pusing, telinga saya sedikit berdengung, dan dunia di sekitar saya terasa berputar.
Tapi, saya heran. Kalau saja saya menceritakan hal ini kepada teman secara verbal, mungkin respon yang akan saya dapatkan adalah, “Ah, lebay lu…” Sialan. Maka dari itu, saya lebih suka mengumbar keluhan melalui tulisan-tulisan daripada curhat secara verbal. Karena respon yang mungkin akan saya dapat hanya seperti itu. Kalau dengan cara ini kan saya kelihatan keren, padahal tulisan ini sebenarnya juga tidak ada isinya.
…
Saya masih gelisah.
…
Masih.
Posted by anjar on Jul 2, '10 8:47 PM for everyone Pagi tadi saya berpikir ulang tentang makna hidup dan tentang sebuah kesyukuran. Lagi? Iya, dong. Andaikata, bagaimana kalau saya adalah nyamuk? Yang beterbangan di kamar, lalu hinggap di kaki seseorang, menghisap darahnya, membuat orang itu gatal, dan akhirnya… PLAKK!! Saya dipukul, sempoyongan, lalu mati sebagai nyamuk yang… tanpa nama, tanpa eksistensi diri, ya hanya seekor nyamuk. Tidak ada yang mengenali saya, karena setelahnya saya akan dibuang ke tempat sampah, masih mending, kalau tubuh saya dipenyet dengan tangan manusia yang besar sampai tak berbekas, habislah eksistensi saya di dunia ini.Andai saja ada kuburan untuk nyamuk, ya. Ada yang melayat dan ada pula yang mendoakan. Lebih parah lagi kalau harus berakhir di ujung peluru-peluru tajam ber-merk baygon, domestos nomos, tiga roda, dan teman-temannya. Sigh… Padahal saya kan juga pengen nyari makan, kok kalian gitu sih?!
Ya, kalau saya adalah nyamuk, Anda adalah nyamuk, apa yang harus dilakukan? Hmm… Saya jadi bertanya, apakah mereka para nyamuk juga punya nama, ya? Lalu, siapa nama mereka? Apakah nguing-nguing, ngiung-ngiung, ngung-ngung, atau malah ngeng-ngong? Entahlah. Yang pasti, tadi pagi saya baru saja menepuk nyamuk, dan mendadak terkejut dan akhirnya terbesit sebuah pertanyaan aneh itu tadi, “Andaikata, bagaimana kalau saya adalah nyamuk?” Kemudian, saya menjadi begitu merasa bersalah.
Tapi sebenarnya jadi nyamuk itu cukup sederhana. Sepertinya. Lahir, berkembang, beterbangan, mencari makan, kawin (nggak perlu ijab qobul, nggak perlu mbeliin rumah, nggak perlu mbeliin hadiah kalo bini lagi ngambek, dan nggak perlu-nggak perlu lainnya), bertelur, cari makan lagi, kawin lagi, dan akhirnya riwayatnya tamat dihabisi oleh tangan-tangan besar, kesetrum sama raket yang pakai baterai, atau keracunan baygon. Satu lagi, nyamuk tidak punya agama. Mereka tidak pernah bertengkar karena masalah agama, suku, ataupun etnis dan golongan, apalagi partai politik. Nggak ada juga yang namanya nyamuk Israel dan nyamuk Palestina. Yang ada ya, nyamuk anopheles atau nyamuk aedes aegipti. Musuh mereka paling-paling ya manusia itu tadi, atau mungkin sesekali kodok dan cicak yang berada di rantai makanan nomor dua setelah manusia. Bagusnya lagi, bisa jadi nyamuk adalah salah satu makhluk mungil yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberi, walaupun hanya beberapa tetes darah, dan umur yang tidak lebih dari dua hari (karena di hari ketiga mereka akan menghadapi gempuran baygon dan teman-teman). Mereka memang kecil, namun bisa membuat manusia juga meninggal dunia. Jadi, jangan remehkan mereka. Ah, saya jadi berpikir, apakah ada surga untuk nyamuk? Bukankah semua hal di dunia ini diciptakan tiada kesia-siaan di dalamnya?
Yap. Begitulah nyamuk. Menjalani hidup dengan simpel. Bagaimana dengan manusia? PLAKK!! Saya menampar diri sendiri. Cukup! Kembali ke dunia nyata. Saya adalah manusia dengan nama ANJAR PRIMASETRA, nama yang aneh namun cukup catchy kalau tertera di sebuah buku atau di acara-acara seminar. Bah!
Manusia itu… rumit. Mungkin disebabkan oleh otak mereka yang juga rumit desainnya. Jadi sikapnya, cara hidupnya, dan segala-galanya benar-benar rumit. Selalu merasa kurang, suka bermusuhan, pesimis, dan macam-macam lagi. Mungkin inilah mengapa malaikat waktu itu menyangsikan Allah tentang kapabilitas mereka untuk menjadi khalifah di muka bumi karena sifat-sifat buruk itu tadi. Tapi, untungnya semua itu dijawab dengan bijak oleh Allah kalau hanya Dia-lah yang mengerti tentang semuanya.
Beuh! Nyamuk di tangan saya yang baru saya pukul tadi masih nge-cap. Mendadak saya jadi merasa bersyukur sekali dilahirkan ke dunia ini sebagai manusia, (Loh?! Kok mendadak? Katanya tadi pengen jadi nyamuk? Gimana, sih?) bukan sebagai nyamuk. Walaupun akhir-akhir ini nasib saya tidak terlalu mujur, tapi hidup sebagai manusia adalah nikmat yang paling besar yang dapat saya rasakan. Dapat melihat dunia, berpikir dengan otak yang jernih walau terkadang rumit, dapat membedakan yang mana gula yang mana garam, dan satu hal yang pasti mendapat kesempatan untuk masuk surga, karena yang saya tahu, surga diciptakan untuk manusia, bukan untuk nyamuk (yah, walaupun tidak menutup kemungkinan ada nyamuk di surga).
Mari bersyukur atas segala nikmat yang telah diberi…
Alhamdulillah… Posted by anjar on Jun 16, '10 8:26 PM for everyone Banyak orang mati di dunia ini, namun sedikit sekali yang merasa hidup…
Kalau ada yang bertanya, apa hobi saya? Hobi saya adalah melamun. Kadang kala saya juga mengamati aktivitas orang-orang di sekitar. Memelototi mereka seperti anak kecil yang heran terhadap hal-hal baru. Atau mungkin lebih tepatnya, ada sisi anak kecil yang masih tinggal dalam diri saya: Pengamat yang berlebihan. Tapi, kemudian hasil amatan itu biasanya saya diskusikan kepada orang banyak lewat jurnal harian saya di Blog, atau dengan teman-teman ketika sedang berkumpul di studio, di kedai kopi, atau warung makan. Terlebih lagi, suatu hari nanti saya akan membukukan tulisan-tulisan saya tentang pengamatan hidup itu tadi. Saya jadi ingin menjadi orang terkenal atau orang penting. Karena orang-orang seperti itu, hanya mengatakan, “Change!” atau “Yes we can!” saja sudah menjadi panutan. Apalagi kalau menulis jurnal harian yang ringan seperti ini lalu dikirim ke media massa, mungkin sekali menulis, tulisan ini akan dihargai jutaan rupiah padahal ya cuma gitu doang (kayak Samuel Mulia).
Saya jadi mikir, kalau begitu saya ini tidak cocok menjadi kuli yang kerjanya sangat aktif ke sana kemari, kejar tayang, pecicilan kayak kuman (emang kuman bisa pecicilan, ya? Baru tahu saya). Karena saya pasti akan dikatakan, uhh lemot banget sih lu. He he padahal mereka tidak tahu kalau saya sedang mengamati cara kerja mereka. Saya lebih suka duduk diam, mengamati, dan berkomentar. Hmm… Kalau begitu, seharusnya saya menjadi seorang peneliti di laboratorium dengan tikus-tikus putih, ya? Tapi sayangnya, dulu sewaktu kuliah, saya tidak pernah berhubungan dengan tikus-tikus putih. Apalagi berkenalan dengan tikus putih yang ingin menguasai dunia kayak si Pinky dan si Brain.
Lantas, saya jadi berpikir kemudian. Apakah saya bisa hidup, mencari nafkah, dan penghasilan hanya dengan hobi saya saja? Sedangkan, sudah ditekankan dalam-dalam oleh Ibu saya sejak kecil bahwa cari duit itu sulit dan capek banget. Terus, bagaimana caranya mencari duit dengan santai, enjoy, tanpa harus merasa capek?
Nah!
Mungkin itu yang hanya ditekankan oleh orang tua kita sejak kecil. Cuma cari duit, dan cari duit. Saya lupa dan berusaha mengingat apakah saya pernah diajarkan bagaimana caranya menyenangkan hati sendiri dengan pilihan-pilhan hidup yang membuat bahagia selamanya. Karena banyak sekali orang yang berduit, tapi hidup mereka tidak bahagia. Namun sebaliknya, banyak yang kere, namun tetap saja merasa cukup dan bahagia. Perhatikan saja sekitar kita. Banyak orang yang bekerja, namun berapa banyak orang yang menikmati pekerjaan mereka? Mungkin dalam hati mereka hanya berharap, aduh kapan ya weekend? Aduh, kok belum jam 5 sore, sih? Aduh kok jam 3 pagi masih nge render di studio, sih? Ha ha. Kasihan deh lu! He he no offense no offense. Jadi betul, kan kalimat pembuka saya? Banyak orang mati di dunia ini, tapi sangat sedikit orang-orang di dunia ini yang merasa hidup. Apalagi bahagia. Mungkin begitu.
Tadi malam, saya bercakap-cakap dengan teman saya tentang ini. Sambil menyantap bakmi jawa yang dimasak lama sekali. Tapi, itulah untungnya. Banyak topik obrolan yang kita hajar untuk dijadikan bahan renungan. Karena saking banyaknya topik obrolan, saya jadi bingung mau menulis apa. Kesimpulannya sih, saya akan selalu memilih yang menurut apa kata hati itu benar dan kita merasa bahagia, tidak gundah gulana. Ya, walaupun perlu dengan percobaan berkali-kali agar hati ini menjadi merasa plong.
Akhir-akhir ini saya juga begitu. Sebenarnya, saya merasa hal-hal yang selama ini saya lakukan masih kurang cukup menyenangkan dan tidak bisa membuat hati saya lega. Bahkan tulisan-tulisan yang saya hasilkan tidak sebaik dulu, menurut saya. Karena ada yang mengganjal yang membuat saya melakukan segalanya menjadi setengah hati. Untunglah. Teman saya banyak. Banyak referensi yang bisa diambil sebagai acuan. Banyak cerita yang dapat dijadikan pedoman. Maka, benar sekali dalam sebuah silaturahmi itu banyak berkahnya. Bertemu dengan banyak orang, menemukan cerita-cerita baru setiap harinya, dan yang terpenting, dapat memberikan semangat baru dalam pengejaran sebuah kebahagiaan.
Ah, yang saya butuhkan adalah konsistensi terhadap apa yang saya lakukan ini. Dapatkah saya tetap menikmati pekerjaan saya sekarang? Ataukah saya termakan omongan-omongan negatif orang lain yang melihat saya terlalu berlebihan dalam mempercayai sesuatu. Mengutip dari sang Alchemist Paulo Coelho, “Hanya impian saja yang dapat membuat aku hidup sampai saat ini…” Saya juga begitu. Saya ini kere, hidup pas-pasan, fasilitas terbatas, Cuma mimpi yang saya punya. Kalau mimpi saja tidak punya, ah lebih baik mati saja. Perlu diingat sekali lagi, orang mati sudah banyak, namun orang yang merasa hidup masih dikit banget. Ya, saya cuma pengen cerita ke semua orang, saya termasuk orang-orang sedikit itu. Yang merasa hidup… Dan sedang mengejar kebahagiaan.
Mengumpulkan enjoy meter yang sudah berkurang… Saya baru baca 5 cm… wah pas banget… studio saya juga pake cm… he he Kalo si Doni penulisnya bilang kita Cuma deket 5cm aja dari impian kita, kalo saya bilang Impian dan saya tidak ada jarak… lah wong 0cm… mudah untuk diraihnya…
Ha ha…
Kunjungi Situs kami: studionolcentimeter.com Dan blog kami: studio-nol-centimeter.blogspot.com Posted by anjar on May 26, '10 4:34 AM for everyone Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di kota New York dimana wanita dapat memilih suami. Diantara instruksi2 yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.
"Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI"
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali keluar dari toko.. Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko "suami" tersebut untuk mencari suami..
Di lantai 1 terdapat tulisan : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan
Di lantai 2 terdapat tulisan : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan,taat pada Tuhan,dan senang anak kecil
Di lantai 3 terdapat tulisan : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan,taat pada Tuhan,senang anak kecil dan cakep
'' Wow'', pikirnya tapi dia masih penasaran untuk terus naik. Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan,taat pada Tuhan,senang anak kecil ternyata cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.
''Ya ampun !'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya''. Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan,taat pada Tuhan,senang anak kecil,cakep banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata‐mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.
Terima kasih telah berbelanja di toko "Suami". Hati‐hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.
:D Posted by anjar on May 17, '10 11:11 PM for everyone
Seorang teman dalam sebuah diskusi santai di rumah teman yang lain berkata, “Banyak lho yang kecewa dengan jasa arsitek dan kontraktor.” Lalu teman saya yang lain menimpali, “Iya, kalau kecewa emang banyak omongnya, tapi coba kalau puas, biasanya mereka nggak ngomong.” Dalam hati saya berkata, “Ah, sama saja. Kecewa atau tidak konsumen kita, mereka akan berbicara tentang arsitek atau kontraktor yang mereka sewa.” Begitulah perbincangan singkat di suatu sore menjelang maghrib di rumah seorang kenalan saya yang juga seorang kontraktor. Suatu hari, perbincangan ini menjadi semacam gumpalan dalam otak saya yang sedikit megganggu.
Saya dan teman-teman studio sedang mengerjakan renovasi interior dua buah tempat usaha. Yang pertama adalah restoran berkonsep warung tradisional. Dan yang kedua adalah warnet. Dimana kedua tempat usaha tersebut sedikit mengganggu pikiran saya, sehingga muncullah tulisan ini.
Tempat usaha pertama adalah sebuah warung makan yang memiliki konsep unik, cita rasa masakan yang pas, dan menu-menu yang banyak serta variatif. Adapun konsep warung makan tersebut adalah, para pengunjung tidak hanya disuguhkan makanan dan minuman yang enak, namun sekaligus mendapatkan berbagai macam informasi mengenai makanan-makanan halal dan bahan-bahan apa saja yang dapat membuat makanan halal menjadi haram. Unik, bukan? Bahkan warung makan ini sudah mendapatkan sertifikasi dari MUI untuk masalah bahan-bahan makanan atau minuman yang digunakan.
Maka, suatu siang, bertemulah saya dengan pemilik warung tersebut, dan beliau mengutarakan maksud dan tujuannya. Sesaat masuk ke restoran tersebut, naluri arsitektur saya langsung bekerja. Hmm… ada beberapa yang memang mengganjal di warung ini. Pertama, pintu masuknya yang kurang menyambut. Dalam arti, sebuah pintu masuk restoran sebaiknya menarik, mencolok, dan terlihat langsung dari jalan. Karena pintu masuk adalah imej pembuka yang ditawarkan kepada konsumen apakah tempat tersebut layak untuk didatangi atau tidak. Lalu kedua, saya pernah membaca sebuah buku mengenai Feng Shui, bahwa untuk merancang pintu depan sebuah tempat usaha haruslah rapi, indah, dan kalau bisa menggunakan warna-warna yang mencolok seperti merah terang, atau oranye terang agar rejeki dapat mengalir dengan baik. Memang sih, tidak usah dipercaya secara keyakinan, namun secara logis hal tersebut memang betul saya kira. Kesan pertama harus nendang, agar pengunjung semakin tertarik untuk memasuki dan berlama-lama di tempat usaha yang Anda tawarkan, dalam hal ini misalnya restoran.
Setelah itu, setelah masuk ke dalam, suasana yang terbangun memang sedikit suram. Banyak hal-hal dari elemen dekorasi yang kurang cocok secara komposisi. Seperti ada sebuah kipas angin kecil yang menurut saya aneh menggantung di tiang di dekat area makan. Ada pula papan tulis berwarna putih yang kurang pas penempatannya. Selain itu, belum lagi ada sebuah spanduk yang saya rasa kurang cocok kalau dikombinasikan dengan susunan balok-balok kayu kelapa yang menurut saya artistik di area kasir. Area taman luar juga belum tertata rapi. Pagar-pagar bambu yang melingkupinya terlihat kusam dan tidak tertata. Ternyata banyak juga yang harus diolah dari tempat ini.
Saya juga sempat mendatanginya di malam hari. Untuk merasakan suasananya ketika malam. Ketika malam, suasananya sebenarnya cukup nyaman dengan sentuhan warna kuning soft tone dari lampu yang didekor seadanya. Tapi sayang saja, tidak semua lampu berwarna kuning. Ada pula lampu yang berwarna putih sehingga kalau dikombinasikan menjadi tidak senada dengan lampu kuning soft tone tadi. Yang perlu diingat dari perancangan ruang sebuah restoran adalah sebaiknya gunakan saja lampu-lampu dengan warna kuning lembut agar suasana menjadi lebih romantis dan syahdu, sehingga orang akan berlama-lama duduk-duduk di sana.
Sebelum saya memberitahukan hal-hal yang negatif tadi kepada pemilik resto tersebut, beliau juga mengakuinya terlebih dahulu. Dan memang menurut beliau hal-hal tadi memang harus diolah agar suasana dapat menjadi daya tarik yang lebih bagi konsumen. Karena memang sebenarnya jumlah pengunjung warung tersebut tidak terlalu banyak, padahal kalau soal rasa dan menu masakannya tidak ada masalah. Masakannya lezat dan menu yang ditawarkan sangat beragam. Ada yang salah di sini. Apa yang terjadi? Padahal masakan sudah enak, menu beragam, konsepnya unik, apa yang salah? Berarti benar kata pak Arif Budiman pemilik Petakumpet Adv bahwa, “Good is not enough, it has to be sold.” Dan ternyata memang benar juga, bahwa warung tersebut kurang secara promosi. Tapi saya tidak terlalu berurusan dengan promosi, yang saya urusi adalah faktor ketiga dari 3P dalam memulai bisnis setelah people dan product, yaitu place.
Setelah dibuatkan desain yang baru, ada hal yang mengganjal lagi di benak saya. Ternyata biaya renovasinya cukup tinggi. Kalau sudah begini, saya cukup pusing, dan agak takut, jangan-jangan klien saya kabur gara-gara melihat nominal yang cukup besar, padahal dana yang dimiliki juga terbatas. Tapi mau bagaimana lagi, ongkos renovasi memang jauh lebih tinggi ketimbang kita merencanakan desain tersebut sejak awal. Inilah keasyikannya, ketika dihadapkan pada persoalan ingin performansi yang tinggi namun biaya yang dimiliki terbatas. Sehingga konsep “ono rego ono rupo” menjadi terbiaskan. Ya, saya berharap saja, semoga klien tersebut tidak kabur, karena sampai sekarang saya belum bertemu lagi dengan beliau.
Tempat usaha kedua adalah sebuah warnet yang sifatnya mirip dengan tempat usaha pertama tadi. Tempatnya kurang menarik dan pengunjung sedikit. Serta tidak ada konsep unik apa yang ditawarkan oleh warnet ini. Tempat pertama tadi lebih mendingan karena ia memiliki konsep yang unik dengan menjual label “halal” kepada segmentasi pasar tertentu. Ceritanya hampir sama dengan cerita yang pertama. Saya diminta untuk merancangkan interior warnet tersebut. Biaya yang akhirnya terhitung pun cukup tinggi. Tapi mau bagaimana lagi. Untuk mendapatkan sesuatu yang tinggi, kita juga harus siap melompat lebih tinggi, kan? Memang sih, segala alternatif dapat dilakukan seperti menggunakan bahan-bahan alternative yang lebih murah, namun apakah bahan alternative tersebut dapat bertahan lama? Mungkin tampilannya sama dengan bahan yang harganya mahal, namun untuk permasalahan durabilitas, siapa yang mau menjamin akan tahan lama? Kalau sudah begini, sebaiknya yang dilakukan adalah rasa mengerti. Saling mengerti antara klien dan arsitek, serta mencari solusinya secara bersama-sama. Karena dalam hal ini, sebenarnya pemilik tempat itu sendirilah perancangnya, sedangkan arsitek hanya semacam bidan yang membantu persalinan desain tersebut untuk lahir dan mewujud ke dunia visual.
Saya agak miris. Mungkin karena memang kurang publikasi, atau kurang banyak arsitek yang mau menulis demi mempromosikan arsitektur sehingga orang awam cenderung takut untuk menggunakan jasa arsitek. Padahal kalau bangunan atau tempat usaha itu dirancang sendiri tanpa arsitek, bisa saja harga yang akan dikeluarkan justru jauh lebih mahal ketimbang kalau direncanakan dengan bantuan arsitek.
Belum lagi kalau harus ada pekerjaan renovasi. Bongkar sana-bongkar sini yang cukup menyita waktu dan tenaga sehingga ongkosnya jauh lebih tinggi. Mengapa renovasi lebih tinggi? Tentu, karena sama saja seperti membetulkan lukisan yang rusak di sebuah kanvas yang sudah ternodai. Gampang mana, membuat sebuah lukisan di atas kanvas kosong, atau membetulkan lukisan yang rusak?
Maka dari itu, rencanakanlah sebaik mungkin tempat usaha Anda sebelum Anda memulai bisnis. Karena tempat usaha merupakan salah satu P dari 3P dalam sebuah bisnis, yaitu Place. Kalau salah satunya kurang baik, bisa jadi bisnis juga tidak akan berjalan secara sinergis. Jangan takut dengan total harga yang keluar, karena bisa jadi harga tersebut pas dengan keuntungan yang akan Anda dapatkan suatu hari nanti. Dan satu hal yang pasti, jangan takut untuk mendiskusikannya dengan arsitek kenalan Anda. Kami nggak gigit kok. He he.
Selamat merencanakan dan merancang tempat usaha Anda! Sukses selalu!
Tulisan ini juga dimuat di web kami: studionolcentimeter.com Silakan berkunjung.
Posted by anjar on May 6, '10 9:44 AM for everyone [Flash Fiction]
Suatu hari, kau bercerita melalui jurnal mayamu bahwa kau sebal denganku. Kau memotret hadiah-hadiah dariku dalam keadaan hancur, berkeping-keping,d an terkoyak-koyak. Kau dengan teganya meng-upload foto-foto tersebut di jurnal mayamu itu danmenjadikannya bahan lelucon. Saat itu aku marah. Ingin sekali aku melabrakmu dan menghujatmu habis-habisan. Namun aku sadar, kau berhak melakukannya. Karena barang-barang itu sudah menjadi milikmu.
Hari berikutnya, aku mendengar dari temanku bahwa kau bersama teman-temanmu lainnya menjadikanku bahan olok-olokan dalam sebuah perbincangan di kantin kampusmu. Kau mengolokku habis-habisan dan mengataiku pecundang. Aku begitu terbakar emosi waktu itu. Tapi, sekejap kemudian aku sadar. Mulut itu milikmu, kau berhak mengatakan apapun sesukamu.
Tapi hari ini...
Aku melihatmu terduduk. Mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan boneka Daruma yang kau banting tempo hari. Kau juga membubuhkan lem pada kertas-kertas yang berisi foto-foto kenangan kita. Ada apa? Dan kau melakukan semua itu sambil menangis. Ingin sekali aku mendekatimu, lalu mengusap kepalamu agar kau berhenti menangis. Menyemangatimu sambil berkata, "tersenyumlah..."
Hanya saja, kali ini tidak bisa, Sayang. Karena tiba-tiba ada seseorang yang menahanku untukmelakukannya. Dia datang menjemputku. Serta-merta ia berkata, "Kau sudah siap?" Mau tak mau, tanpa disadari aku pun mengangguk. Menuruti perintahnya. Dengan sekejap, kami pergi.
Meninggalkanmu sendiri.
Duduk.
Menangis.
Mencoba menyulam semua kenangan yang tercerai berai.
Dalam hati, dan berharap semoga kau mendengarnya, aku berkata,
Selamat tinggal.
Tersenyumlah . . .
...
untuk kesekian kalinya aku melihat jam tanganku sambil memeriksa pintu depan kedai kopi ini. Memperhatikan apakah sesosok anggun yang kunanti telah tiba atau belum. Ternyata belum. Aku kembali menekuri layar laptopku yang sudah menyala selama 20 menit. 1 menit menyalakannya, 5 menit menghubungkannya dengan koneksi wi-fi, 5 menit membuka facebook lalu aku bosan, dan 9 menit sisanya kugunakan untuk menulis kisah singkat.
Selesai sudah. Aku semakin bosan.
Saat aku melirik jam tanganku lagi, beruntung saja ekor mataku menangkap sosok anggun itu. Aku melambaikan tangan kepadanya. Orang itu membalasku sambil tersenyum. Lalu ia duduk di depanku dengan setelan wajah yang biasa kulihat: lesu, kantung mata yang semakin tebal, dan dan keluhan-keluhan “huff” atau “fuh” yang sesekali terdengar. Aku tersenyum melihatnya malam ini. Karena ia masih seperti yang dulu. Tak berubah.
Kami berbincang singkat, salig menyapa, dan menanyakan kabar satu sama lain, hingga akhirnya kesenyapan yang kunikmati pun tiba. Dua menit. Kesenyapan itu memecah dengan celetukanku, “Kalau aku mati, apakah kau akan menangis untukku?”
Air mukanya seketika saja berubah. Terkejut, namun berangsur semakin lesu. Jauh lebih lesu dari sebelumnya. Ia terdiam. Aku pun begitu. Raut wajah kami sekarang sudah semakin serius. Aku memperhatikannya. Sekejap saja, gejala yang sering kulihat terjadi padanya. Bahunya mulai naik turun tak beraturan. Ia akan menangis.
Melihat hal itu, sepertinya aku menjadi tidak tega. Bibirku yang mengatup ini kemudian melebar dan menyunggingkan senyum riang. Memulai kebiasaan yang sering ia lihat kalau kami bertemu. Untuk selanjutnya aku melakukan hal yang biasa ia sebut sebagai, “tawa renyah”. Ia mendadak cemberut, dan ingin beranjak pergi.
Hei…
Aku menarik tangannya. Menyuruhnya agar tidak pergi lagi. Setidaknya malam ini. Aku menenangkannya, kemudian berkata,
Aku bercanda…
We never know the good thing til it’s gone… I’m sorry…
Posted by anjar on Apr 29, '10 9:11 AM for everyone Pagi ini saya beranikan diri lagi untuk menulis. Sejak, komputer dipindah ke studio, saya jadi merasa sedikit malas untuk menulis, apalagi akhir-akhir ini saya kerap menginap di studio, jadilah kemalasan untuk menulis semakin meningkat. Karena untuk menulis saya memerlukan privasi yang begitu ketat. Akhir-akhir ini saya merasa menjadi sosok yang begitu introvert dalam menulis sesuatu. Padahal dulu tidak. Saat Labkom kampus masih 24 jam, terkadang saya menulis di sana, entah jurnal, entah cerpen. Sedangkan sekarang, rasa-rasanya sulit sekali untuk melakukan hal tersebut: menulis di tempat umum dengan banyak orang di dalamnya.
Entah disadari atau tidak, dua hal yang saya minati sekarang yaitu arsitektur dan menulis dulunya adalah hal yang ingin saya hindari. Bahkan tidak saya sukai. Dulu, saya selalu menghindari semoga saya tidak berhubungan dengan ilmu bangunan dan semacamnya. Tapi, ternyata takdir berbicara lain. Saya diharusan untuk mencintai arsitektur, mungkin sampai mati. Begitu juga dengan dunia tulis-menulis. Saya lebih menyukai komik ketimbang novel yang menurut saya membosankan waktu itu. Saya juga bukan orang yang suka membaca dulu sewaktu kecil. Dan lagi-lagi waktu berlalu, takdir berubah. Tanpa saya sadari, saya diharuskan untuk mencintai dunia kepenulisan, mungkin juga sampai mati. Kemudian, selalu saja saya pertanyakan dalam-dalam, “apakah ini jalan hidup saya?” Kalau sudah seperti ini, biasanya saya menjadi begitu sentimental, lalu tiba-tiba mencuatkan argumen dalam kepala saya bahwa sesungguhnya hal yang tidak kita sukai itu belum tentu buruk bagi kita, dan hal yang kita sukai itu juga belum tentu baik bagi diri kita.
Tiba-tiba saya teringat lagi tentang sesuatu. Saya baru saja membaca sebuah buku yang berjudul “Andai Aku Jalan Kaki”, sebuah buku yang berisi renungan-renungan kecil tentang dunia, materi, dan kehidupan. Dikemas dalam bentuk jurnal harian yang menarik untuk dibaca. Bab pertama berisi tentang seorang laki-laki kaya raya, menawan, baik hati, dan hidup penuh dengan kemewahan. Orang-orang begitu menyukainya, selalu ingin dekat dengannya, dan selalu ingin mencuri perhatiannya ketika bercakap-cakap dalam sebuah kesempatan. Terlebih para wanita, begitu ingin menjadi kekasih orang itu. Namun kemudian si penulis memberikan sebuah kondisi yang begitu kontradiktif dari sebelumnya. Andai semua kemewahan itu dicabut, kekayaan itu diambil, dan tidak ada uang sepeser pun yang melekat dari dirinya, si penulis bertanya, “Masihkah kau ada untukku?” Ya. Masihkah orang-orang yang dulunya baik dengannya, dekat dengannya, akan selalu berada di sampingnya? Atau bisa jadi orang-orang yang dulunya baik kemudian mendadak berubah menjadi begitu sinis dan menyebalkan ketika si lelaki itu menjadi begitu miskin. Dari sini, muncullah kesimpulan lagi dalam benak saya bahwa materi tidak dapat membuat seseorang bernilai. Saat materi itu dicabut, masihkah dia bernilai? Lantas, apa yang dapat membuat seseorang itu bernilai di mata manusia yang lain?
Hmm… Mendadak saya bosan menulis ini. Inti dari tulisan ini sebenarnya saya ingin merangkum kembali semua cita-cita yang pernah saya tanamkan. Bahkan saya lupa, cita-cita saya apa, sih? Karena saya merasa, akhir-akhir ini saya berubah menjadi seorang yang ingin mengejar materi semata yang dipicu dari dorongan untuk hidup secara mandiri, menyukai seorang wanita, dan ingin menikahinya. Saya menjadi kurang fokus dalam mengejar cita-cita saya sendiri, bahkan tiba-tiba lupa apa yang sebenarnya saya cita-citakan. Cita-cita yang tercecer itu akan saya pungut kembali, dan sekali lagi mencoba untuk menjalani kehidupan ini dengan enjoy. Berjalan santai sambil memasukkan tangan di saku, memandang langit, tersenyum kepada semua orang sambil melambaikan tangan, dan sesekali bersiul kalau ada cewek cakep. Ya, santai saja.
Sekarang, saya tahu. Cita-cita atau keinginan saya saat ini sederhana. Yang begitu saya inginkan adalah duduk sendiri di sebuah kedai kopi yang sepi, membuka laptop yang mungil, menulis naskah baru, dan memesan espresso paling pahit agar tidak cepat habis saya minum sehingga menjadi teman menulis berjam-jam. Posted by anjar on Apr 1, '10 11:22 AM for everyone
Akhirnya saya berkesempatan lagi untuk menonton film yang cukup klasik yaitu Bram Stoker’s Dracula. Setelah lama saya sudah tidak pernah melihat lagi kemunculannya di layar kaca. Seingat saya, dulu sewaktu saya SD, film ini beberapa kali diputar di beberapa stasiun televisi pada premiere time sekitar jam delapan sampai jam sepuluh malam. Hanya saja, waktu itu saya masih terkena jam malam oleh orang tua saya, mau tidak mau saya harus mengakhirinya sekitar jam sembilan, padahal film tersebut sedang seru-serunya. Saya ingat sekali, saya selalu selesai menontonnya ketika Miss Lucy sedang dirawat oleh Doctor Abraham Van Helsing. Sepenuhnya, saya lupa semua kejadian dalam film itu.
Barulah beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan e-book Bram Stoker’s Dracula dari seorang teman kos. Saya membaca sampai habis e-book tersebut, padahal jarang-jarang saya membaca melalui media komputer. Biasanya yang terjadi adalah kebosanan yang telak, ataupun muncul rasa kantuk yang berlebihan, dan paling parah adalah mata lelah dan iritasi. Namun, sugesti dalam diri saya mengatakan bahwa novel ini bagus, dan layak dibaca sampai habis. Yup, benar saja. Saya membacanya sampai habis!
Kemudian, didorong oleh rasa penasaran yang begitu tinggi, saya dan teman kos yang memberikan e-book tersebut mencari-cari film Bram Stoker’s Dracula yang pernah kami tonton bertahun-tahun silam. Kami mencari di rental VCD terdekat kos kami. Namun, ternyata pencarian belum membuahkan hasil. Kami mencoba mencari lagi di rental VCD lainnya, namun sepertinya tidak ada. Akhirnya beberapa saat kemudian karena kesibukan kami masing-masing, pencarian film tersebut kami hentikan terlebih dahulu. Hingga di suatu sore teman saya tadi mengirimkan pesan singkat kepada saya, “Aku nyewa Bram Stoker Dracula di Universal…” Sip! Akhirnya saya dapat mengobati rasa penasaran saya tadi.
Lalu, apa yang spesial dari novelnya? Bagi saya yang masih meraba-raba cara dan gaya kepenulisan sebuah cerita fiksi, dengan membaca novel ini, saya menjadi tahu cara lain dalam menceritakan sebuah kisah secara unik dan mendetil. Kalau kebanyakan novel-novel lain menggunakan cara bercerita naratif yang berisi tentang topik-topik yang dikemas dalam sebuah plot cerita baik maju, mundur, ataupun maju-mundur, novel Dracula ini diceritakan dengan cara deskriptif dimana sang penulis menggunakan sebuah metode catatan harian. Kita dapat memahami alur cerita dari penggambaran peristiwa-peristiwa yang ditulis oleh tokoh-tokohnya lewat catatan-catatan harian mereka. Ada pula beberapa adegan yang dibuat dan diceritakan dengan menggunakan surat ataupun telegram dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Hal ini unik, karena novel ini dituis pada abad ke-19 dan kemudian menjadikan tokoh Dracula menjadi tokoh fiktif paling populer menyaingi Sherlock Holmes dan Frankenstein. Lalu apa yang terjadi? Cerita ini menjadi begitu tampak nyata, sampai-sampai saya mengira Dracula penghisap darah ini benar-benar ada di dunia nyata.
Dan… apa hubungannya dengan cinta? Fuh… Prolognya panjang betul, ya? Bukankah orang-orang yang membaca tulisan ini pasti penasaran akan kata cinta yang terpampang dengan jelas pada judul tulisan? He he ini namanya metode jebakan yang saya buat. Saya ingin mencekoki pikiran Anda dengan sebuah pemikiran baru, “Bram Stoker’s Dracula itu keren”
Ya. Kita mulai topik cintanya.
Hmmm… Setelah mencermati, sepertinya topik tentang cinta akan membuat tulisan saya menjadi banyak pengunjungnya ataupun komentarnya. Ya, kita lihat saja.
Saya memulai dari topik Dracula karena satu: dalam film ini dikisahkan mengapa Dracula dapat berubah dari seorang manusia biasa menjadi makhluk jadi-jadian yang haus darah. Dari makhluk relijius pembela Kristus menjadi makhluk bengis setara Iblis. Apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu? Jelas saja. Cinta. Dracula ditinggal mati oleh istrinya ketika ia sedang turun bersama tentara-tentara Rumania dalam perang Salib melawan pasukan Turki. Kala itu, Dracula berhasil memenangkan perang tersebut. Namun, ada surat palsu yang menyebutkan bahwa Dracula terbunuh dalam perang. Istrinya lalu bunuh diri ketika membaca surat itu. Ketika Dracula pulang, ia mendapati istrinya telah meninggal. Ia lalu lupa daratan dan mulai mengamuk.
“Apa yang telah Kau lakukan! Aku telah membela-Mu mati-matian, mengapa aku mendapatkan balasan seperti ini!”
Ya, kira-kira begitulah dialognya. Orang gila… orang gila… (sambil tepuk-tepuk tangan gaya anak kecil lagi nyorakin orang gila… karena bener… aktingnya keren… Akting pemain-pemainnya seperti akting para aktor dalam sebuah pementasan teater, bukan film…)
“Aku akan bangkit dari kematian dan mengambil apa yang menjadi hakku!”
Lalu, pedangnya ia hujamkan ke salib di depannya. Darah tiba-tiba terpancar dari salib itu, dari mata semua patung yang ada di sekitarnya, dan dari segala arah di dalam gereja tersebut. (bagian ini agak aneh). Dracula mengambil cawan (kok tiba-tiba ada cawan ya?) dan menadahi darah yang muncrat di sana-sini dengan cawan tersebut sambil berujar sebuah quote yang sering disebut dalam film ini, “Darah adalah kehidupan.” Lalu, meminumnya…
Pada poin ini, kita cukupkan bahasan tentang Dracula. Karena sepertinya Anda yang membaca tulisan saya ini telah bosan, saya pun begitu. Sudah mulai bosan menulisnya. Jadi, kita ganti topik pembahasan saja. Masih soal cinta yang pasti. Kisah klasik lainnya yang saya rasa sudah kita kenal semua: Romeo Juliet, Sanpek Engtay, Layla Majnun, Hunchback Notredam, Frankenstein, dan Panglima Tian Feng.
Semua berujung satu: Tragis. Dan kita akan berkesimpulan, “Begitulah cinta. Deritanya tiada akhir…” Semua berakhir karena cinta, dan semua hancur karena cinta.
Alakazam!
Dunia belum berakhir, woi!
Padahal masih ada kisah-kisah cinta lainnya yang berakhir bahagia seperti Cinderella, Rapunzel, Snow White, ataupun Winnie the pooh. He he bercanda. Ya, sebut saja kisah cinta yang fenomenal antara Khadijah dan Muhammad, Ali dan Fatimah, ataupun kisah Sultan pendiri Taj Mahal. Bukan menjadikan cinta sebagai kalimat sebab-akibat, namun menjadikan cinta sebagai kalimat entah apa namanya, mungkin tujuan. Dengan menggunakan kata “untuk.” Berjuang demi cinta, semua untuk cinta. Memberikan segalanya demi seorang yang dicintai. Kalau kata seorang penulis yang bernama pena Salim A. Fillah, memaknai cinta sebagai sebuah kata kerja. Bukan kata benda, apalagi sebab-akibat (nah kalau yang ini kata saya. He he).
Ada dua hal… Kalau sedang mencintai seseorang… Pertama, mengambil kesempatan Kedua, mempersilakan orag lain untuk mengambil kesempatan tersebut… Pertama, adalah keberanian Kedua, adalah pengorbanan… Dua-duanya adalah hal yang begitu indah bagi para pecinta sejati… Ya, nothing to loose lah…
Bah, pada poin ini saya mulai bosan lagi. Dan Anda sepertinya juga bosan. Ya, pokoknya begini aja lah… saya udah ngantuk ni…
Orang sudah mulai sering berbicara ketimbang mendengar… Orang sudah mulai sering meminta sesuatu ketimbang memberi sesuatu… Dan orang sudah mulai sering ingin dicintai ketimbang mencintai…
Ya, setidaknya, saya ingin menjadi…
orang yang suka mendengar ketimbang berbicara, Memberi sesuatu ketimbang meminta sesuatu… Mencintai, dan bukan hanya ingin dicintai…
Jadi… Mike Mohede atau Delon? Ya, saya sih lebih suka suara dan lagunya Mike… lebih smooth…
Semua untuk cinta…
loh?
Setelah menonton Bram Stoker’s Dracula dan membaca Jalan Cinta Para Pejuang bab Mencintai sejantan Ali… Otak sedang membadai dirinya sendiri…
Posted by anjar on Apr 1, '10 11:20 AM for everyone Hmm… Siapa itu Mitchell Foucault? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya menemukan wajahnya terpampang di sebuah stand ketika menghadiri sebuah pameran buku beberapa waktu lalu. Saya tertarik untuk mendatangi stand tersebut karena melihat tampangnya yang eksentrik. Botak, dan berkacamata. Lalu saya mendekat, mengambil buku tersebut, melihat covernya sebentar, dan membaca isi buku itu secara cepat karena kebetulan buku tersebut tidak diberi plastik pembungkus.
Barulah saya tahu siapa orang itu. Ternyata adalah salah satu penulis, filsuf, pemikir yang bla-bla-bla (saya lupa), singkat kata, bahasanya liar, radikal, dan suka menyentil. Karena pembahasannya terlalu berat untuk dibaca secara cepat, saya jadi kurang mengerti apa isi buku tersebut lebih jauh. Pastinya, hanya satu yang saya tertarik dari Foucault. Botak dan berkacamata. Dan keren… Oh, ya ada sebuah pembicaraan sewaktu saya melihat dan meneliti isi buku tersebut:
Mas-mas penjaga: Beli mas bukunya.
Saya: (nyengir doang)
Mas-mas penjaga: Mas nya kuliah dimana?
Saya: udah lulus, mas
Mas-mas penjaga: Dulu kuliah dimana?
Saya: Arsitektur
Mas-mas penjaga: Oh, Foucault juga arsitek. Dia merancang penjara yang dirancang hanya dijaga oleh satu orang. Satu orang menjaga beratus-ratus napi. Beli, mas bukunya.
Saya: Nyengir lagi (berujar dalam hati, “Hmm strategi marketing yang bagus, mas. Nice try. Tapi saya termasuk pelanggan yang introvert ketika sedang memilih barang. Dan juga, apa iya po? Foucault mbikin penjara kayak gitu. Lah wong Azkaban aja dijaga banyak Dementor.)
Ya, begitu. Tapi, mengapa pembahasan Foucault ini saya taruh di depan, ya? Tiba-tiba saya lupa. Saya jadi bingung. Ah, iya. Botak dan berkacamata. Seperti saya. Ha ha ha. Mari kita lupakan pembahasan soal saya. Anggap saja ini adalah sebuah pemanasan sekaligus ice breaking sebelum memasuki pembahasan yang lebih lanjut.
Yap.
Langit senja berwarna kuning dan anak-anak yang sedang berlatih sepeda. Dan juga ibu-ibu yang duduk-duduk di depan teras rumah mereka sambil menyuapi anaknya yang masih balita. Adalah pemandangan yang saya lihat hari sabtu lalu, ketika telah selesai membuat adonan es krim bersama dua orang teman saya di rumahnya. Saat melihat itu, saya menyadari bahwa: Saya masih hidup, dan hidup ini begitu indah untuk dilalui dengan menyayat nadi, ataupun menangisi masa lalu, juga masa depan. Pemandangan tersebut juga akhirnya mengingatkan saya tentang rumah dan kampung halaman. Ketika sore tiba, dulu saya biasanya duduk-duduk di depan teras rumah saya di Pontianak, menatap parit dan anak-anak kecil yang berseliweran sambil mengejar layang-layang, atau para tetangga yang lewat di depan rumah sambil sesekali menyapa, “Njar!” Apalagi kalau suasananya adalah suasana Ramadhan menjelang lebaran. Seolah-olah suasana senja menjadi hal yang begitu indah untuk dinikmati.
Ow, dude, this is life…
Saya jadi memiliki formula dan menyimpulkan bagaimana caranya menikmati hidup dan waktu yang begitu sempit. Kasarannya begini, Berlarilah sekencang-kencangnya, lalu berhenti, duduk sebentar sambil melihat langit. Nikmati kesenyapan tersebut beberapa saat. Istirahatkan mata, nikmati pemandangan sekitar, bersiul ketika melihat cewek cakep, dan tersenyumlah. Setelah itu, berlarilah lagi. Lebih kencang dari sebelumnya. Saat itu, kita akan merasa bahwa kita adalah manusia keren yang sedang hidup dan menjalani kehidupan dengan cara yang keren. Jangan suka menyendiri ketika penat atau patah hati. Keluar rumahlah, bertemu teman-teman, melihat langit sore, dan cuci mata. Jangan biarkan pekerjaan yang membuat kita tertekan menyebabkan kita bunuh diri. Jangan biarkan orang yang telah membuat kita patah hati menjadikan otak kita berlendir, lalu berkarat, dan akhirnya kadaluarsa.
Lalu, formula selanjutnya adalah obrolan sepele. Ketika sedang bersama teman-teman diluar jam kerja atau kantor, jangan biarkan obrolan seputar pekerjaan, karir, jodoh, dan hal lain yang membuat desperate menjadi topik obrolan. Obrolkan saja tentang hal-hal sepele seperti horror apa yang sedang nge-trend, tokoh mana apa yang bisa dihujat, ataupun trik-trik memenangkan turnamen Pro Evolution Soccer.
Dan malam tadi, saya memesan bakmi jawa lagi. Tiga malam berturut-turut bakmi jawa. Yang membuatnya berbeda hanyalah pembicaraan sepele yang membuat saya merasa hidup.
Malam 1: Ayo, nginep di tempetku. Kita nonton horror.
Malam2: Saya kasih laptop buat anak saya biar dia Fesbukan, terus rangkingnya turun n ga jadi karyawan. Alhamdulillah dia jadi rangking 11. Tu gokil banget dah! Ha ha.
Malam3: “Udah lama saya nggak ke sini Bu.” Kata saya. “Lah saya emang libur empat bulan. Ni malam baru buka lagi.” Kata si Ibu. Hoo… lah…
Satu formula lagi untuk menikmati hidup adalah lakukan apa yang menurut hati ini benar. Walaupun terasa berat, kita akan hidup dengan harga diri yang begitu tinggi. Pada akhirnya pasti akan terasa menyenangkan.
Pulang dari studio, mampir di lapangan luas di bawah jembatan Lempuyangan. Duduk di sana ngeliat kereta sambil makan jagung rebus. Banyak anak kecil yang begitu bersemangat ketika kereta lewat. Hal sepele padahal. Cuma kereta. Tapi bagi mereka, kereta adalah hal yang paling mengagumkan di dunia. Apalagi kalau peluitnya dibunyikan. Hal sepele yang mengagumkan… Sedangkan orang dewasa… Begitu menyedihkan… hal-hal yang mengagumkan bagi mereka mungkin sekarang hanya terbatasi menjadi 3: duit, jodoh, sama karir… bueh! Posted by anjar on Mar 19, '10 6:23 AM for everyone yang berarti:
1. latian nyetir mobil
2. latian nukang, masang genteng, nggergaji, masang listrik
3. (berniat) memasukkan lamaran beasiswa ke jurusan arsitektur program studi sejarah arsitektur dan konservasi bangunan kuno, tapi yang bahasa pengantarnya bahasa inggris
4. beberapa langkah lebih maju menuju financial freedom
| |