Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Posted by anjar on Nov 17, '09 8:28 PM for everyone
(semacam rekaman dari sebuah proses kreatif)

Apa bedanya Samuel Mulia dengan saya? Wew, kok saya? Narsis amat. Ya, sudah, lupakan. Bedanya adalah, Samuel Mulia cuma nulis gitu doang, dia dapet duit. Sedangkan saya, nulis gitu doang, nggak dapet apa-apa. Tapi, sudahlah. Kita lewatkan soal duit yang menjadi problem seluruh bangsa Indonesia. Kita masuk ke persamaan saja. Kami sama-sama menulis. Yah, walaupun tidak saling mengenal dan saya tidak terkenal, saya menjadikannya ikon favorit ketika membaca Kompas Minggu, setelah Benny dan Mice tentunya. Tapi, yang harus diperhatikan di sini adalah, apa yang ditulis? Samuel Mulia selalu memulai tulisannya dengan berangkat dari kejadian sehari-hari yang kemudian menyentil pembaca untuk care terhadap suatu fenomena. Bahkan terkadang fenomena yang kecil seperti budaya mengantri, mohon izin pada bos, dan sebagainya. Menggiring pembaca untuk melihat hal-hal satir yang didapat sehari-hari terlebih dahulu seakan ia menertawakan diri sendiri, dan selanjutnya pembaca secara tidak langsung terseret untuk menertawakan diri mereka sendiri, lantas bergumam, “Oh begitu ya…”. Lalu saya melihat hal ini semacam hal yang kecil untuk sebuah perubahan yang besar. Mungkin begitu.

Nah. Itu yang membuat saya menjadikannya ikon favorit ketika saya membaca Kompas Minggu. Karena saya juga menyukai hal-hal yang satir dan terkadang menertawakan diri sendiri, lalu saya tulis ke dalam sebuah tulisan, sehingga pada akhirnya (saya harap) pembaca setia blog saya atau notes di facebook saya pun ikut menertawakan diri mereka. Ha ha bercanda. Nggak ding. Serius. Tapi, yang bagian itu tadi. Hal yang kecil untuk sebuah perubahan yang besar.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Baiklah.

Bergulat selama tiga tahun—waktu yang masih terlalu sedikit—dalam dunia kepenulisan sejak diperkenalkannya saya dengan Forum Lingkar Pena yang waktu itu saya anggap keren banget, membuat saya agak sedikit berani berbicara, “Ayo pada nulis o.” Tiga tahun memang bukan waktu yang banyak apalagi kalau tidak ditekuni secara mendalam, namun pasti ada sebuah hal yang dapat dibagi kepada semua orang dari sebuah pelajaran kecil yang telah diambil, terlebih lagi orang yang ingin menulis tapi selalu kesulitan untuk memulai kalimat pertama mereka. Tiga tahun juga tidak dapat dibanggakan karena secara tidak langsung menulis itu sebenarnya sama seperti bermain piano, bermain sepakbola, dan online di Kaskus. Butuh jam terbang agar jari-jari itu lihai dalam memainkan tuts, kaki-kaki itu piawai dalam mengolah si kulit bundar, dan tentu saja menjadi seorang pertamax yang dapat dibanggakan oleh seluruh Kaskuser di Indonesia.

Maka dari itu, saya merasa tersentil untuk membagi beberapa pelajaran yang telah saya temukan dari percintaan saya dengan dunia tulis menulis yang masih balita ini. Pertanyaannya, apakah saya telah menjadi orang sukses, kok berani-beraninya membagi sebuah pelajaran yang masih teoritis banget? Tenang saja. Al-Qur’an juga diturunkan secara bertahap, toh? Tidak menunggu 114 Surat turun semua kan? Ya, secara bertahap diberikan kepada Nabi Muhammad biar dijadikan pedoman dalam kehidupan manusia secara langsung. Nanti kalau saya sudah jadi orang sukses, ya saya tulis yang lain lagi lah. Gitu aja kok repot…  

Jadi… Apa tips menulis versi saya yang culun ini? Culun? Edward Culun?

1. Milikilah semangat layaknya mahasiswa dalam mengejar IPK dan wartawan Gosip dalam menguak fakta perselingkuhan para artis.
Saya belajar satu hal dari editor yang menerbitkan buku pertama saya bahwa pembaca itu butuh hal yang simpel. Bukan hal yang berat dan rumit. Biarlah hal yang berat dan rumit itu menjadi milik penulis seorang. Tapi, penerjemahan dari proses membaca hal-hal yang rumit itu haruslah sederhana dan mudah dicerna. Saya pun akhirnya menyadari hal lain bahwa pembaca itu memang seharusnya diperlakukan seperti teman atau bahkan pacar. Saat teman atau pacar kita curhat, yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah pendapat kita yang penuh dengan retorika, tapi hanyalah sebuah telinga yang memang disiapkan untuk mendengarkan keluh kesanya. Maksudnya mereka tidak butuh hal yang rumit, tapi cukup yang sederhana. Ingat! Kita tidak sedang berhadapan dengan dosen pembimbing atau dosen penguji Thesis. Tapi, pembaca yang budiman. Ya, walaupun tidak menutup kemungkinan segmentasi pasar kita nantinya pun akan mencakup dosen.

Tapi, ingat! Walaupun sederhana, segalanya harus disusun secara matang dan terpercaya. Kalau menurut saya, modalnya hanya dua. Semangat dan Bertanya. Kalau ditanya, semangat apa yang paling pas? Ya, mungkin adalah semangat yang dimiliki oleh mahasiswa yang mengejar IPK Cumlaude dengan sungguh-sungguh. Kehidupan sehari-harinya didedikasikan kepada akademis sampai berdarah-darah. Halah lebay. Mencari dan terus mencari literatur-literatur yang pas yang dapat digunakan kmenjadi bahan untuk membuat sebuah tulisan menjadi lebih berbobot. Lalu apa? Satu hal lagi yang pasti, apa yang membuat wartawan Gosip menjadi satu hal yang paling ditakuti oleh para artis? Yaitu keberanian mereka untuk menguak fakta. Apalagi yang menyangkut perselingkuhan. Mak Nyus!!! Selalu akan ada pertanyaan di benak mereka kalau melihat fenomena yang janggal. Selalu bertanya. Selalu bertanya. Dengan bertanya, mereka akan menemukan jawaban yang pasti dari sumbernya. Dengan bertanya, menjadikan mereka sebuah senjata yang ditakuti oleh setiap individu yang menyeleweng. Untuk memangkas proses membaca suatu literatur yang tebal dan memakan waktu lama, mencari Narasumber dan lakukan wawancara adalah langkah yang tepat. Dari pertanyaan-pertanyaan itu pastinya akan ada diskusi yang menarik yang dapat dijadikan bahan tulisan. Selain itu, secara tidak langsung kita akan belajar sesuatu hal yang baru dari sumbernya langsung. Asyik, kan?  

2. Tertarik untuk membaca hal-hal baru
Ada hal yang menarik yang saya dapatkan pada acara Musyawarah Wilayah Forum Lingkar Pena Yogyakarta tahun lalu. Seorang pembicaranya mengatakan hal yang membuat saya tergelak, “Pertama, kita harus menyadari satu hal bahwa Nabi kita bukan penulis…” Benar. Nabi Muhammad buta huruf. Namun, apa yang diturunkan kepada beliau pada peristiwa turunnya Al-Qur’an? Benar. Peristiwa bersejarah dimana Malaikat Jibril sampai mengulangi kata Iqra’ sebanyak tiga kali! Itu berarti ada makna di balik suatu maksud. Makna yang terkandung dari sebuah pembacaan kalam Ilahi. Dan perlu diingat, setelahnya Allah melanjutkan, “Yang mengajarkan manusia dari perantara kalam.” Sekali lagi. Ada maksud di balik dari proses membaca dan menulis.

Selain itu, dengan membaca hal-hal baru, pikiran kita menjadi lebih terbuka, loncatan-loncatan ide liar akan selalu beterbangan. Saat semua ide itu beterbangan, baru ikatlah semua ide ke dalam sebuah tulisan yang keren. Tulisan apa yang keren? Dan bagaimana caranya membuat tulisan itu menjadi keren? Menulis dengan hati dan bersungguh-sungguh. Walaupun tulisan itu tidak bernyawa, tapi rasa yang terekam dari proses kreatif yang mengkristal akan terus tertinggal di dalam karya tersebut. Sehingga saya pun harus sepakat dengan ST 12. Ada rasa yang tertinggal.   

Membaca dan menulis itu tidak dapat dipisahkan. Seperti bernafas. Membaca itu seperti menghirup udara, dan menulis adalah menghembuskannya. Ini katanya Mbak Dee, sih. Bukan kata saya. Keren, kan?

3. Punya Blog dan teman-teman setia yang selalu mengunjungi Blog kamu
Ada yang masih saya ingat sampai sekarang. Dulu waktu kecil saya sering diajak oleh Mama saya untuk bermain tenis bersama teman-teman kantornya. Saya pun dikenalkan dengan teman-temannya, termasuk pelatih tenisnya yang juga merupakan salah satu karyawan di Bank tempat Ibu saya bekerja. Saya begitu bersemangat. Lalu, apa yang saya lakukan setelahnya? Saya pikir saya akan langsung dibolehkan bermain tenis di lapangan tersebut dan melawan teman-teman ibu saya yang tinggi badannya jelas lebih tinggi daripada saya. Tapi, tidak. Saya disuruh memantul-mantulkan bola tenis ke lantai dengan raket. Tujuannya satu, kata pak pelatih waktu itu: untuk membiasakan diri dengan bola dan mengontrol pukulan kita. Ah, gampang. Saya pikir begitu. Tapi, ternyata tidak juga. Sulit sekali. Bolanya memantul-mantul tidak karuan, kadang lepas kontrol dan keluar dari jangkauan raket. Setelah sukses dan pantulan kita menjadi lebih baik dan telaten, barulah kita boleh menyicipi lapangan.

Sama halnya dengan menulis. Dengan memiliki Blog, ada dua hal yang akan kita dapatkan. Pertama, kamu mendapatkan sebuah “kebiasaan”. Kebiasaan untuk menulis. Kebiasaan untuk melontarkan kata, mengomentari satu hal. Dan kebiasaan ini nantinya akan sangat membantu kita dalam membuat sebuah tulisan. Sebelum menulis, tulislah hal-hal yang dekat dengan kita terlebihd ahulu. Lalu, secara sederhana “terbitkan” tulisan itu di Blog pribadi. Kedua, secara tidak langsung, kita pun pasti akan memiliki “pembaca” setia yang akan selalu berkomentar dan menanti-nanti tulisan kita selanjutnya. Ibaratnya, sebelum terbang, sebaiknya kita belajar dulu untuk menapak. Seperti sewaktu awal-awal kuliah saya dulu. Membuat garis lurus pada selembar kertas A3 tanpa penggaris secara melintang, sebelum belajar teknik gambar perspektif secara free hand.

4. Patuhilah deadline
Dead artinya mati. Dan line artinya garis. Jadi, deadline berarti kalau keluar garis, kita bakal mati. Halah. Bekerja dengan deadline tertentu membuat kita terpacu. Banyak dari teman saya pada waktu kuliah dulu menyelesaikan gambar desainnya hanya di beberapa hari terakhir sebelum pengumpulan. Deadline dan tanggapan dosen yang nylekit biasanya menjadi pemicu dari teman-teman saya untuk membuat desain sebaik mungkin di batas akhir pengumpulan. Begitu juga saya pada saat Tugas Akhir dulu. Padahal waktu yang diberikan adalah dua bulan, tapi baru di bulan kedua saya mendapatkan ide untuk menggambar dan menyelesaikan desain saya. Di hari-hari terakhir, saya dapat menggambar empat buah sketsa ukuran A3 di atas dua kertas kalkir ukuran 60 cm x 100 cm dalam sehari. Saya masih tidak percaya dengan keajaiban itu. Seperti dikejar anjing tetangga rasanya. Deadline adalah suatu hal yang mujarab yang mendatangkan keajaiban. Proses kreatif memang terjadi terus menerus dan tidak akan pernah selesai, tapi dengan adanya deadline, proses kreatif itu menjadi menjadi semakin meluap-luap dan menubuhkannya menjadi hal nyata yang dapat diapresiasi. Jadi, berilah deadline pada diri Anda sendiri.

5. Kenalan sama editor
Teman saya yang lain lagi yang berkecimpung di dunia bisnis dan batik membatik pernah memberitahu saya, “Kalau kamu pengen minjem uang di Bank, langsung ketemuan sama kepala Cabangnya! Jangan sama Costumer Service-nya! Ribet! Kamu bakal dipersulit!”. Begitu juga dengan menulis atau menerbitkan sebuah buku. Kalau ada kenalan orang dalam khususnya editor sebuah penerbit yang Anda sasar, akan mempercepat proses penerbitan buku Anda. Karena nantinya Anda akan berdiskusi panjang lebar tentang isu apa yang sering ditulis atau buku apa yang sedang dicari oleh penerbit tempat beliau bekerja. Kalau sudah begitu, segalanya akan menjadi mudah, walaupun nantinya juga akan selalu ada proses revisi dan revisi dari tulisan yang Anda ajukan. Tapi, dengan begitu, pelajaran lain yang akan Anda petik lagi adalah Anda akan belajar ilmu tulis menulis langsung dari ahlinya. Karena selain mengerti trik dan tips menulis, mereka juga mengerti kondisi pasar. Kalau tidak ada kenalan bagaimana? Gampang! Cari Facebook penerbit tempatnya bekerja. Setelah itu, kenalan aja sama orang-orang di grup penerbit tersebut. Salah satunya, pasti ada editor, kan? SKSDPGTA adalah cara terjitu untuk melangkah. Sok kenal sok dekat padahal ga tahu apa-apa: cara terampuh yang kata teman saya sebagai anak kos agar kita tidak kelaparan saat kiriman kita terlambat datang. He he he

6. Jalan-jalan
Dengan mengamati jalan, suasana kota, orang-orang yang berlalu lalang, ekspresi orang-orang di jalan, pohon-pohonnya, lampu-lampunya, akan membuat kita bersemangat, lalu membuat kita berkesimpulan bahwa dunia ini begitu luas dan tidak sesempit kamar kos 3x3 dengan komputer jadul di dalamnya yang dipakai buat menulis. Saya yakin, dengan jalan-jalan inspirasi akan datang kapan saja. Inspirasi pun dapat datang dari mana saja dan kapan saja. Bsia dengan hanya melihat sebuah detil dari satu bangunan, ekspresi bodoh seorang cowok saat dicubit oleh pacarnya, pengemis buta yang sedang meinta-minta, atau bahkan lampu kota yang tidak menyala, saya rasa bisa mendatangkan inspirasi buat kita semua untuk menciptakan sebuah tulisan. Dari satu hal remeh pun orang dapat menciptakan sebuah kreasi maha dahsyat. Ha lebay. Tapi, memang benar. Ada arsitek bernama Frank Gehry yang mendapatkan inspirasi berarsitekturnya dari ikan peliharaannya sewaktu kecil yang tiba-tiba digoreng oleh ibunya menjadi makan siang. What? How dare you… Tapi, ini Cuma Bullshitan dia aja sih, biar karya dia ada maksudnya… Ha ha ha… Ya tidak boleh begitu juga, sih. Proses orang berkreasi kan bisa dengan cara apa pun juga, kan? Ya, sama seperti rejeki dan jodoh lah yang datang dengan cara yang tidak diduga-duga. Loh kok begitu?
 
Jadi…

Saat Anda sudah jengah dengan kamar Anda yang gitu-gitu saja. Saat Anda bosan dengan tokoh yang Anda ciptakan di sebuah karangan. Saat Anda muak dengan kekauan bahasa artikel yang Anda buat, itu berarti sudah saatnya Anda jalan-jalan. Melihat dunia luar yang begitu luas. Hemm… lebih baik lagi kalau ada orang di samping kita yang bisa digandeng…  

7. Ingat baik-baik pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan waktu SMA
Ingatlah teknik-teknik penulisan sewaktu diberikan guru  bahasa Indonesia dulu. Paragraf tekuk, EYD, kalimat praktis, kalimat majemuk bertingkat, kata depan, awalan, dan lain sebagainya. Karena para editor yang biasanya berada di penerbit besar selalu melihat teknis kepenulisan, apakah sudah benar atau belum. Karena ada beberapa penerbit yang hanya melihat halaman pertama naskah Anda. Apakah Anda sudah memakai paragraf tekuk dengan font TNR 12 (font TNR berkaki adalah jenis tipografi yang mudah dibaca dan tidak membuat mata menjadi mudah lelah karena membacanya. Saya sendiri sebenarnya tidak menyukai TNR karena terlalu formal dan kurang keren. Tapi apa boleh buat, karena kepentingan fungsional kita harus mulai mencintai TNR) dan spasi 1.5? Kalau sudah, berarti selanjutnya adalah mengecek isi naskah Anda, apakah menarik dan layak diterbitkan atau tidak. Tapi kalau belum sesuai dengan teknis kepenulisan, bisa jadi naskah Anda akan dilempar ke gudang pembuangan dan tentu saja melupakan siapa penulisnya. Ingat! Mereka (beberapa penerbit sih) tidak akan memberitahu penulisnya kalau tulisannya tidak diterima. Penulis sendirilah yang harus mengeceknya.

8. Bikin kalimat pertama yang nendang!
Meminjam dari Blog Raditya Dika, agar tulisan kita dibaca, kita harus membuat kalimat pertama yang nendang! Misalnya, ya tulisan blog ini? Kalimat pertamanya sudah cukup membuat Anda penasaran, kan? Ha ha (Maaf-maaf… Sedang kumat). Selain judul karangan, artikel, Bab atau sub-bab, kalimat pertama memegang peranan penting apakah tulisan Anda akan menyedot bahkan menghipnotis perhatian pembaca atau tidak. Berilah kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya terserah Anda, apakah ingin membuat pembaca menjadi begitu antusias dengan tulisan Anda atau malah bosan dengan apa yang Anda tulis.

Yap. Begitulah 8 tips menulis yang saya dapatkan dari porses perenungan yang begitu singkat ini. Namun, kesingkatan itu baru saya sadari ternyata telah disusupi oleh Doraemon sehingga membuatnya berjalan menembus zonasi empat dimensi yang absurd dan tidak jelas. Sampai akhirnya membuatnya terasa cukup lama untuk mengumpulkan ide-ide yang tercecer dan mengulur benang-benang yang kusut. Apa, sih?
Selamat menulis! Semoga tidak menertawakan diri sendiri seperti saya.






Notes:
November tiga tahun lalu saya membuat sebuah essay jelek dan cerpen norak, lalu saya kirimkan ke Forum Lingkar Pena Jogjakarta yang waktu itu sedang menyelenggarakan open rekrutmen. Dan anehnya, saya diterima. Sampai sekarang, saya masih tidak percaya. Well, memang benar kata seorang teman, butuh jumpalitan tiga tahun untuk menemukan apa bakat saya. Butuh jalan panjang yang begitu memutar untuk tahu siapa diri saya. Asyik! Jadi kalau saya ditanya Pak Guru dan Bu Guru, “Apa bakat kamu?” Akan saya jawab, “Menulis!” Tapi sayang, saya menemukannya setelah saya berusia 22 tahun dan lulus dari pendidikan arsitek, tur (tapi_bahasa Jawa_ red.) UGM… Ga pa pa…Toh Erwin Gutawa juga dulu kuliah di arsitektur… Halah…

Jadi, bagi yang punya adek yang masih kecil atau bahkan udah punya anak, bantulah mereka dalam menemukan bakat mereka. Menemukan bakat sejak usia dini adalah hal yang paling menyenangkan di dunia ini… Lalu bantu mereka menemukan jawaban untuk menjawab pertanyaan, “Apa cita-citamu?”

Kalo kata mas-mas mentor saya pas SMA, untuk menjawab dan mengerti apa itu Ma’rifatul Insaan (Mengenal kodrat manusia, Who Am I)…

(Pesan layanan masyarakat ini tidak disampaikan oleh Kak Seto)

Notes2:
Tips ini berlaku bagi Anda yang ingin menulis artikel di Blog, Majalah, buku populer ataupun fiksi. Tidak berlaku untuk Anda yang sedang menyusun Skripsi, Thesis, apalagi Disertasi. Tidak berlaku juga untuk Anda yang sedang menyusun laporan penelitian ataupun PKM…  

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sulthanah wrote on Nov 17, '09
Aku lebih berntung dari Anjar karena aku tahu bakatku sejak aku masih SD. Kuliahku juga sudah mendukung bakatku, tinggal perjuanganku menuju cita-citaku: menjadi PENULIS sejati,*hihihi, sorry Njar.
genkeis wrote on Nov 18, '09
nice sharing mas anjar ^_^v
ikkens wrote on Nov 18, '09
tulisan keren ! berbagi pengalaman dan ilmu, insya allah bermanfaat buatku.
archoholic wrote on Nov 18, '09
Aku lebih berntung dari Anjar karena aku tahu bakatku sejak aku masih SD. Kuliahku juga sudah mendukung bakatku, tinggal perjuanganku menuju cita-citaku: menjadi PENULIS sejati,*hihihi, sorry Njar.
ha ha ha sip mbak! aku senang sekali bisa bertemu orang yang memahami dirinya sendiri sejak usia dini... sip! :)
archoholic wrote on Nov 18, '09
genkeis said
nice sharing mas anjar ^_^v
tengkyu mas :)
archoholic wrote on Nov 18, '09
ikkens said
tulisan keren ! berbagi pengalaman dan ilmu, insya allah bermanfaat buatku.
sip mbak! semoga bermanfaat! :)
imazahra wrote on Nov 18, '09
Aku orang yg terus 'BERMIMPI', seberat apapun rintangan di hadapanku :-)
*tadi malam seru banget ngobrolin impian di dunia buku bareng Desi*

Ah, kangen malam2 ngobrol ma kalian, mpe pintong 2 kali :-)
archoholic wrote on Nov 20, '09
Aku orang yg terus 'BERMIMPI', seberat apapun rintangan di hadapanku :-)
*tadi malam seru banget ngobrolin impian di dunia buku bareng Desi*

Ah, kangen malam2 ngobrol ma kalian, mpe pintong 2 kali :-)
ayo ke jogja mbak... :D
genkeis wrote on Nov 24, '09
saya sharing (copas) tulisan ini di myQuran.org yaw ^-^
*link url-nya saya cantumin juga kok :D
thanks ;)
archoholic wrote on Nov 24, '09
genkeis said
saya sharing (copas) tulisan ini di myQuran.org yaw ^-^
*link url-nya saya cantumin juga kok :D
thanks ;)
wew... sip sip tengkyu mas :D
Add a Comment